Hermes akan Bangun Peternakan Buaya Terbesar di Australia untuk Produksi Tas

Hestianingsih - wolipop Kamis, 19 Nov 2020 05:30 WIB
Tas Hermes IIustrasi buaya. Foto: iStock
Jakarta -

Hermes berencana membangun peternakan buaya terbesar di Australia. Buaya-buaya hasil ternak itu nantinya diambil kulitnya sebagai bahan baku utama pembuatan tas serta aksesori lainnya.

PRI Farming, perusahaan di bawah naungan Hermes pun telah membeli lahan bekas pertanian melon dan pisang di kawasan Lambels Lagoon, yang akan dijadikan peternakan buaya. Seperti dikutip dari ABC Australia, lahan itu dibeli seharga Rp 74,9 miliar.

Lahan tersebut dikatakan bisa menampung sekitar 50 ribu buaya. Selain dikuliti dan dijadikan produk fashion, daging buaya juga dijual sebagai bahan pangan.

Rencana Hermes membangun peternakan buaya terbesar di Australia mendapat protes keras dari para pencinta dan aktivis hewan. Mereka menyebut Hermes dan IPR Farming melakukan tindaakan yang menjijikan dan tidak penting.

Tas HermesTas Hermes Birkin dari kulit buaya. Foto: Dok. Christie's

Langkah yang diambil Hermes pun dianggap sebagai kemunduran dalam industri fashion. Mengingat kini banyak brand fashion ternama justru berlomba-lomba meminimalisir atau bahkan menghentikan pemakaian kulit dan bulu hewan asli dalam produk-produknya.

"Pada masa di mana industri bulu hewan mulai turun, atas nama KESOMBONGAN, Hermes berencana membangun peternakan pabrik buaya terbesar di Australia," sindir Olga Kikou, aktivis dari Compassion in World Farming lewat cuitan Twitter.

"@Hermes_Paris jangan ganggu buaya-buaya kami #Australia," tulis netizen.

"Ini mengerikan. @Hermes_Paris berinvestasi di peternakan buaya yang sangat besar di Australia untuk memproduksi daging dn kulit atas nama fashion. Saya harap arwah Steve Irwin menghantui mereka," cuit netizen lainnya.

HermesTas Hermes Birkin dari kulit buaya. Foto: dok. Bags of Luxury

Tas kulit buaya merupakan salah satu produk andalan Hermes di pasar barang mewah, terutama untuk seri Birkin. Sebagian besar rumah mode ternama seperti Hermes dan Louis Vuitton memilih kulit buaya air asin di Australia sebaga bahan baku utama karena karakteristik kulitnya.

Menurut pakar peternak buaya Geoff McClure, ternakan buaya air asin memiliki kepadatan sisik lebih banyak per unit di bagian perutnya. Seperti diketahui, kulit di perut buaya lah yang banyak diambil untuk dijadikan produk fashion.

Hingga tulisan ini diturunkan, pihak Hermes maupun IPR Farming belum memberi komentar terhadap protes yang dilayangkan netizen dan aktivis di Twitter.

(hst/hst)