Imbas Corona, Brand Fashion Batalkan Pesanan Senilai Rp 49 T dari Bangladesh

Hestianingsih - wolipop Jumat, 03 Apr 2020 10:03 WIB
DHAKA, BANGLADESH - AUGUST 4: Women rest while participating in a hunger strike at a Tuba Group factory August 4, 2014 in Dhaka, Bangladesh. Garment workers have been on a hunger strike since July 28th, demanding three months of unpaid wages and Eid bonus from their employer, Tuba Group. (Photo by Allison Joyce/Getty Images) Ilustrasi buruh garmen di Bangladesh. Foto: Getty Images/Allison Joyce
Bangladesh -

Virus corona membuat industri fashion di berbagai dunia babak belur. Kelompok pekerja paling terkena imbas dari penyebaran COVID-19 adalah buruh konveksi yang sehari-harinya memproduksi produk untuk sejumlah retailer pakaian besar.

Lebih dari satu juta pekerja garmen di Bangladesh harus dirumahkan tanpa digaji. Sebagian lagi kehilangan pekerjaan mereka karena sejumlah brand busana membatalkan atau menunda produksi pesanan mereka.

Seperti diberitakan Guardian, Asosiasi Bangladesh dan Eksportir Kain (BGMEA) mencatat total nilai produksi yang dibatalkan atau ditunda mencapai 2,4 miliar pound sterling atau sekitar Rp 49 triliun. Pembatalan itu datang dari sejumlah brand fashion ternama seperti Primark, Next, Marks & Spencer dan Tesco.


BGMEA mengatakan dampak pembatalan besar-besaran produksi baju ini sudah menimbulkan 'malapetaka' bagi Bangladesh. Pasalnya sebagian besar penghasilan buruh dan produsen kain di Bangladesh berasal dari pesanan brand maupun retailer baju di Negara Barat.

Buruh konveksi di Bangladesh saat ini berjumlah 4 juta orang. Lebih dari seperempat buruh telah kehilangan pekerjaan atau dirumahkan tanpa gaji, sebagai dampak dari pembatalan atau brand yang menolak mengganti biaya ekspedisi yang dibatalkan.

Force majeure digunakan sebagai alasan para retailer di negara-negara Barat dalam kontraknya untuk membatalkan atau menunda pesanan akibat mewabahnya virus corona. Hal ini membuat berbagai perusahaan garmen merugi besar, sebab berbagai brand ini menunda pengiriman dan pembayaran produk yang telah diproduksi.

Imbas Corona, Brand Fashion Batalkan Pesanan Senilai Rp 49 T dari BangladeshIlustrasi pabrik garmen yang sepi di Bangladesh. Foto: Getty Images/Allison Joyce


Mereka juga membatalkan semua pesanan yang sedang dalam pengerjaan untuk musim berikutnya dan menolak membayar ganti rugi bahan mentah yang sudah terlanjur dibeli dari pemasok. Maka dari itu para pemilik perusahaan garmen terpaksa merumahkan para buruh konveksi ini.

"Kami sudah menutup pabrik sementara waktu demi kesehatan dan keselamatan para pekerja kami tapi kami juga menghadapi kehancuran karena banyak brand dan retailer yang membatalkan pesanan padahal sudah mulai diproduksi dan jika merekatidak membayarkannya, aku tidak bisa menggaji karyawan," tutur Mostafiz Uddin, chief executive Bangladesh Apparel Exchange, dilansir Guardian.

Primark sebagai salah satu retailer yang membatalkan pesanannya ke pabrik garmen di Bangladesh menyatakan bahwa langkah ini memang pahit. Namun terpaksa dilakukan demi menghindari kerugian yang lebih besar.


"Kalau kami tidak mengambil tindakan ini, akan menumpuk stok yang tidak bisa kami jual," demikian ditulis Primark dalam pernyataannya.

Begitu pula Next, brand fashion high-street asal Inggris. Pihaknya menyatakan telah menutup semua toko sementara waktu dan membatalkan pesanan. Namun akan tetap membayar pesanan yang sudah disepakati hingga 10 April 2020.



Simak Video "Intimate Wedding Jadi Tren Baru di Masa Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(hst/hst)