Ibu Kota Pindah ke Kaltim, Ini Kain Tenun Khasnya yang Jadi Warisan Budaya

Daniel Ngantung - wolipop Senin, 26 Agu 2019 16:15 WIB
Perajin tenun ulap doyo (Foto: Dok. Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Timur) Perajin tenun ulap doyo (Foto: Dok. Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Timur)

Jakarta -

Resmi sudah Kalimantan Timur menjadi provinsi pilihan Presiden Joko Widodo atau Jokowi sebagai ibu kota baru Indonesia. Bicara soal budaya, provinsi ini memiliki kekhasan tersendiri termasuk untuk tekstil tradisionalnya. Pernah mendengar ulap doyo?

Ulap doyo merupakan produk wastra buatan Suku Dayak Benuaq yang mendiami sebagian wilayah Kalimantan Timur. Oleh karenanya, kain ini pun sudah menjadi semacam identitas bagi suku tersebut.


Ibu Kota Pindah ke Kaltim, Ini Kain Tenun Khasnya yang Jadi Warisan BudayaFoto: Dok. Indonesia Kaya

Berbeda dari batik, ulap doyo termasuk dalam jenis kain tenun. Nama doyo sendiri diambil dari material utamanya, yakni serat daun doyo (Curliglia latifolia). Tanamannya seperti pandan yang berserat kuat dan tumbuh secara liar di pedalaman Kalimantan, salah satunya di wilayah Tanjung Isuy, Jempang, Kutai Barat.

Pembuatannya terdiri dari beberapa tahap. Mengutip dari situs Indonesia Kaya, daun doyo yang hendak digunakan sebagai bahan baku kain, harus dikeringkan dulu. Lalu, daun tersebut harus disayat mengikuti arah serat daun hingga menjadi serat yang halus.

Serat-serat ini kemudian dijalin dan dilinting hingga membentuk benang kasar. Proses selanjutnya adalah pewarnaan dengan menggunakan bahan-bahan alami. Kebanyakan, ulap doyo hadir dalam warna merah yang berasal dari buah glinggam, kayu oter, dan buah londo. Ada juga versi coklatnya yang diperoleh dari kayu uwar.

Ibu Kota Pindah ke Kaltim, Ini Kain Tenun Khasnya yang Jadi Warisan BudayaFoto: Dok. Indonesia Kaya


Untuk motif, kain yang budidayanya diyakini telah eksis sejak berabad-abad silam ini muncul dalam corak flora dan fauna yang ada di tepian Sungai Mahakam. Peperangan antara manusia dengan naga juga menjadi sumber inspirasi para pembuatnya.

Berdasarkan informasi di situs Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Timur, motif naga melambangkan kecantikan seorang wanita. Ada juga motif limaratau perahu yang melambangkan kerjasama, motif timang atau harimau melambangkan keperkasaan seorang pria, motif tangga tukar toray atau tangga rebah bermakna melindungi usaha dan kerjasama masyarakat, dan berbagai motif yang lain.

Tenun Ulap Doyo dapat digunakan oleh laki-laki dan perempuan dalam acara adat, tari-tarian, dan dalam kehidupan sehari-hari suku Dayak Benuaq. Menariknya, terdapat pembagian kasta pemakai sesuai motif kainnya. Misal, kain motif waniq ngelukng, diperuntukan masyarakat biasa. Sementara itu kain bermotif jaunt nguku hanya boleh dipakai kalangan bangsawan atau raja.


Dengan segala keunikannya, tak heran bila ulap doyo menjadi satu dari 33 kain tradisional yang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Daya tarik ulap doyo itu pula yang 'menyihir' sejumlah desainer ternama untuk mengkreasikannya. Di tangan mereka, kain tersebut tampak lebih modern, kekinian dan wearable.

Salah satunya Billy Tjong yang merilis koleksi busana berbahan tenun doyo tahun lalu. Bahkan pada 2015, ada perancang senior Itang Yunasz yang mengangkat keindahan kain tersebut untuk salah satu koleksinya.

"Beberapa unsur tenun ikat serat ulap doyo dihadirkan dengan print dengan material yang lebih terjangkau masyarakat. Saya mengubah sedikit tekstilnya di mana saya dulu banyak memakai bahan fragile, seperti satin, organza. Tapi saat ini saya mencampurnya dengan benang polyester sehingga tidak terlalu mahal," ungkap Itang jelang peragaan kala itu.





Simak Video "Unik! Ulap Doyo, Tenun Tanaman dari Kalimantan Timur"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)