Eksplorasi Teknik Tie-Dye dari Tanah Batak di Koleksi Baru Purana

Daniel Ngantung - wolipop Minggu, 28 Okt 2018 10:17 WIB
Foto: Mohammad Abduh/Wolipop Foto: Mohammad Abduh/Wolipop

Jakarta - Ulos bukan satu-satunya wastra warisan Tanah Batak, Sumatera Utara. Ternyata kain tie-dye atau celup ikat juga pernah menjadi bagian dari budaya daerah tersebut walau sempat menghilang. Di tangan Nonita Respati dengan labelnya, Purana, kain tersebut eksis kembali dalam sentuhan kekinian yang ramah lingkungan.

Koleksi tersebut naik pentas di hari keenam Jakarta Fashion Week (JFW) 2019, Kamis (26/10/2018). Sebanyak 48 tampilan busana (look) Nonita keluarkan dalam peragaan yang bertajuk 'Humbang Shibori x Purana'.

Kata Humbang diambil dari nama Humbang Hasundutan, sebuah kabupaten di Sumatera Utara, lokasi dari Rumah Kreatif Sinar Mas yang menaungi para perajin celup ikat. Sementara Shibori adalah sebutan teknik celup ikat dalam bahasa Jepang.

Eksplorasi Teknik Tie-Dye dari Tanah Batak di Koleksi Baru Purana Koleksi Humbang Shibori x Purana. (Foto: Mohammad Abduh/Wolipop)
Pada masanya, teknik tie-dye sempat berkembang di kawasan Toba tepatnya di daerah Karo. Pengaplikasikannya pada ulos dan dikenal dengan nama Uis Batujala. Namun seiring kepopuleran ulos, kain tie-dye mulai ditinggalkan. Hingga akhirnya, Rumah Kreatif Sinar Mas mengangkatnya lagi lewat pelatihan tie-dye berbasis ramah lingkungan kepada para perajin lokal yang awalnya diberikan oleh desainer Merdi Sihombing.


Bagi Nonita, koleksi ini kian terasa spesial karena pertama kalinya ia mengeksplor kain tie-dye dari Tanah Batak. Sebelumnya, ia lebih banyak bermain dengan batik dan kain-kain jumputan khas Jawa. "Sudah lama pengin kerjasama dengan artisan luar Jawa. Alhamdulillah terwujud," ucap Nonita kepada Wolipop usai peragaan.

Di mata Nonita, kain tie-dye buatan perajin Humbang menawarkan daya tarik tersendiri. Salah satunya, corak motif yang abstrak sehingga menciptakan kesan kontemporer, tidak terikat pada sebuah pakem.

Eksplorasi Teknik Tie-Dye dari Tanah Batak di Koleksi Baru Purana Foto: Mohammad Abduh/Wolipop
Terlebih lagi proses pewarnaan kain menggunakan bahan-bahan alami seperti kulit kopi dan kulit jengkol sehingga ramah lingkungan. Penggunaan material yang eco-friendly memang sesuai dengan visi dan misi Nonita saat mendirikan Purana pada 2008, yakni menjadikan label tersebut beretika dan berkelanjutan.

Di sisi lain, tantangan tetap ada. Mengingat harga kain yang cukup mahal karena pembuatannya secara hand-made, Nonita harus mencari cara untuk menyiasati agar harga pakaiannya tetap sesuai dengan target pasarnya. "Solusinya, aku padukan bahan tersebut dengan bahan natural fiber seperti linen," kata Nonita yang menyelesaikan koleksi tersebut dalam dua bulan.


Warna yang cenderung kalem atau muted dari proses pewarnaan alami juga menjadi tantangan tersendiri. Butuh siasat khusus untuk membuat busana tetap eye-catching dengan warna tersebut.

Sejumlah busana yang muncul di catwalk di antaranya celana bersiluet sarung, luaran seperti vest panjang, kimono, wrap dress, hingga jumpsuit. Semuanya tampil dengan potongan asimetris nan unik khas Purana. Aksen pleats dan origami menjadi twist yang pas dan memanjakan visual, namun tidak berlebihan.
Eksplorasi Teknik Tie-Dye dari Tanah Batak di Koleksi Baru Purana Foto: Mohammad Abduh/Wolipop

Dalam presentasinya, koleksi berpadu apik dengan topi-topi anyaman berbentuk unik dan tote bag yang terbuat dari sisa kain. "Jadi, zero waste fabric. Sebisa mungkin kami ingin meminimalisir limbah kain," tambah ibu dua anak itu.

Bukan sekadar mempromosikan kekayaan wastra Nusantara, koleksi terbaru Purana ini seolah menjadi angin segar di tengah gempuran produk-produk fast-fashion yang mendorong konsumen untuk berbelanja secara impulsif dan industrinya yang berisiko merusak lingkungan. Sudah seharusnya para desainer Indonesia mulai mempertimbangkan hal tersebut dalam berkarya.
Eksplorasi Teknik Tie-Dye dari Tanah Batak di Koleksi Baru Purana Foto: Mohammad Abduh/Wolipop

(dng/ami)