Alasan Desainer Senior Edward Hutabarat Minder Ciptakan Motif Batik Baru

Rahmi Anjani - wolipop Jumat, 11 Mei 2018 07:10 WIB
Koleksi busana Edward Hutabarat. Foto: Image Dynamics
Jakarta - Eksis sejak 35 tahun lalu, Edward Hutabarat bukan pemain baru di ranah mode Tanah Air. Meski kerap mengeksplor keragaman batik, Edward Hutabarat enggan menciptakan motif baru atas nama komersialisasi.

Edo, begitu Edward akrab disapa, berkesempatan menampilkan batik di kantor pusat UNESCO, organisasi PBB yang mengurusi pendidikan dan kebudayaan, di Paris, awal Juni mendatang. Tak sendiri, Edo juga berangkat bersama dua juniornya, desainer Oscar Lawalata dan Denny Wirawan.

Bagi Edo sendiri, acara yang bertajuk 'BATIK FOR THE WORLD' itu adalah sebuah kesempatan emas untuk memperkenalkan batik ke panggung dunia. Lewat keindahan batik, Edo juga ingin membuktikan bahwa Indonesia adalah 'the masterpiece of God'.

Alasan Desainer Senior Edward Hutabarat Minder Ciptakan Motif Batik BaruKoleksi busana Edward Hutabarat.
Foto: Image Dynamics
Hampir dua dekade lebih Edo bergelut dengan berbagai jenis batik yang umumnya berasal dari Jawa. Salah satu momen yang paling berkesan terjadi saat ia bertamu ke rumah maestro batik Go Tik Swan di Solo, Jawa Tengah, beberapa tahun lalu.

Ia terkagum dengan dua lembar kain batik sawunggaling bernuansa biru dan ungu yang tengah digantung. Batik tersebut rupanya merupakan karya terakhir Go Tik Swan sebelum wafat November 2008 silam dalam usia 77 tahun.

Dalam perjalanannya bersama batik, Edo pun turut mendalami filosofi di baliknya. Pria berdarah Batak ini akhirnya memahami bahwa batik lahir dari sebuah proses yang sakral.

"Maka dari itu, desainer muda harus hati-hati mengolah batik. Batik itu diciptakan untuk leluhur dengan doa dan seremoni suci," terang Edo saat jumpa pers 'BATIK FOR THE WORLD' di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Alasan Desainer Senior Edward Hutabarat Minder Ciptakan Motif Batik BaruKoleksi busana Edward Hutabarat.
Foto: Image Dynamics
Karena itu pula, Edo mengaku enggan menciptakan motif batik baru. "Saya minder buat motif baru karena tidak ada doa dan seremoninya. Lagipula, Indonesia masih memiliki motif-motif batik yang belum dikenal masyarakat luas," tambah pria 59 tahun itu.

Di Paris nanti, Edo akan mengangkat batik dari daerah pesisiran dengan motif Mega Mendung dan Sawunggaling. Batik tersebut dikemas dalam koleksi busana pengantin yang terdiri dari delapan look.

"Koleksi saya lebih fun, yakni wedding gown untuk pengantin say i do di depan laut. Entah itu di Capri atau Pulau Komodo. Nanti akan dipadukan dengan topi-topi anyaman dari Karangasem dan Timor. Lewat koleksi ini saya juga mau bilang, hidup itu jangan dibawa ribet," terang Edo.




Bangga! Dua karya luar biasa designer Indonesia eksis di Victoria's Secret Paris, Saksikan videonya di 20Detik:

(ami/ami)