Unik, Bahan Bioplastik dari Singkong Disulap Jadi Busana Modis

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 24 Okt 2017 15:59 WIB
Foto: Dok. Instagram
Jakarta - Bergaya sambil menyelamatkan lingkungan? Bukan hal yang mustahil. Kreasi terbaru dari tiga label lokal ini menjadi buktinya.

Dengan kreativitas desainer, fashion pun dapat menjadi jawaban permasalahan limbah yang mengancam kelestarian alam. Adalah Purana, Kle dan Cotton Ink, tiga label lokal yang berkolaborasi dengan produsen material ramah lingkungan Avani untuk menciptakan busana dari bahan bioplastik.

Rancangan mereka tampil perdana di Grazia Glitz & Glam yang digelar dalam rangkaian Jakarta Fashion Week 2018 baru-baru ini. Di tangan para desainer dari label tersebut, bioplastik yang terbuat dari singkong itu menjelma menjadi pakaian berdesain unik. Semakin menarik lantaran ketiganya menarik inspirasi gaya dari tiga diva musik internasional.

Nonita Respati dari Purana misalnya terilhami sosok Gwen Stefani, vokalis No Doubt yang kini sibuk berkarier solo sekaligus merintis karier sebagai desainer mode.

Gaya glam-rock khas Gwen lalu Nonita terjemahkan ke dalam empat tampilan yang salah satunya menampilkan coat pastel asimetris berbahan bioplastik sebagai luaran blouse dan celana pipa motif lurik bergaya etnik khas Purana.

Lain lagi dengan label Cotton Ink. Terinspirasi oleh sosok Kylie Minogue yang centil dan feminin, duo Carline Darjanto dan Ria Sarwono melansir luaran berpotongan trench tanpa lengan, ruffle skirt, baby terry dress berlengan gelembung, serta celana palazzo bernuansa 1980an. Sebagai penyempurna gaya, hadir tas dengan bahan biobox yang terbuat dari ampas debu.

Unik, Bahan Bioplastik dari Singkong Disulap Jadi Busana ModisFoto: Dok. Instagram


Lalu Kleting Titis Wigati dari label Kle mengambil inspirasi dari penyanyi Bjork yang identik dengan gaya eksentriknya. Bioplastik disulap oleh Kleting menjadi vest bervolume, rok A-line dengan lipatan-lipatan bertumpuk. Kleting juga melengkapi busananya dengan anting yang terbuat dari sedotan berbahan pati jagung dan kertas.

"Proses kreatifnya cukup menantang karena bahan bioplastik sendiri tidak bisa disetrika karena mudah rusak jika terkena panas," ujar Kleting. Nonita juga merasakan tantangan yang sama.

Chief Marketing Officer Avani Gupta Sitorus mengatakan, bahan bioplastik tidak merusak alam karena mudah terdaur ulang saat dibuang dengan bantuan mikro dan makroorganisme.

Namun di sisi lain, sifatnya yang mudah larut oleh air dan rentan oleh panas membuat bioplastik rentan untuk dijadikan sebuah pakaian yang tahan lama.

"Butuh uji coba berulang kali bagi para desainer untuk membuat busana yang kokoh," kata Gupta. Untuk itu, bahan bioplastik masih perlu terus dikembangkan agar memadai untuk kebutuhan fashion.

Teknologi bioplastik sebetulnya bukan barang baru karena sebuah perusahaan di Eropa sudah memproduksi bioplastik dari jagung dan serat bunga matahari sejak 1990-an. "Tapi bahan-bahan ini cukup mahal. Setelah melalui berbagai riset, singkong bisa menjadi alternatif yang lebih murah," kata Gupta.


(dng/eny)