Go International, 9 Label Fashion Indonesia Ikuti Ajang Pameran di Moskow

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 22 Agu 2017 17:29 WIB
Foto: Daniel Ngantung Foto: Daniel Ngantung

Jakarta - Upaya mengomersialkan produk industri kreatif, terutama fashion Tanah Air, ke pasar global terus dilakukan dengan rutin mengikuti ajang pameran di tingkat internasional. Yang terdekat, sembilan label dari Indonesia akan berpartisipasi dalam Collection Premier Moscow (CPM) di Moskow, Rusia, pada 30 Agustus - 2 September 2017.

Berkonsep B to B, CPM adalah pameran produk fashion berskala global terbesar di kawasan Eropa Timur. Sekitar 1.000 merek fashion dan buyers dari 27 negara akan ikut serta di ajang yang digelar dua tahun sekali itu.

CPM edisi ke-29 ini akan menjadi yang kedua bagi Indonesia. Berbeda dari CPM sebelumnya yang hanya diikuti dua desainer dan label, yakni Itang Yunasz dan Warnatasku, kali ini jumlah peserta dari Indonesia bertambah menjadi sembilan label dan desainer mengingat. Tak hanya pakaian, tapi juga dari ranah aksesori dan sepatu.

"Melihat respons pasar di sana yang cukup positif terhadap produk Indonesia di CPM tahun lalu, maka kami pun mengajak lebih banyak label dan desainer," ujar Lily Halim dari Aura Convex selaku pengorganisir tim Indonesia saat jumpa pers di Gedung Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (22/8/2017).

Go International, 9 Label Fashion Indonesia Ikuti Ajang Pameran di MoskowFoto: Mohammad Abduh/Wolipop


Mereka adalah Kabana by Itang Yunasz, Prive by Dian Pelangi, Kasha by Sjully Darsono, Devyros, Ekuator, Warnatasku, Kalyana Indonesia, Huraira, dan Teha Bags. Semua label mewakili kekuatan Indonesia yang bisa menjadi nilai jual tersendiri, yakni modest wear atau busana sopan dan keragaman budaya.

Lily menuturkan, Rusia dan sekitarnya adalah pasar potensional bagi label Indonesia yang ingin mengekspansi bisnisnya ke ranah global. "Rusia memiliki pertumbuhan pasar produk ready-to-wear yang sangat pesat setelah Shanghai dan Beijing," kata Lily.

Selain itu, berdasarkan pengalaman Itang tahun lalu, pasar Rusia dan negara-negara di Eropa Timur juga sangat tertarik dengan produk-produk Indonesia, terutama yang mengangkat keunikan budaya.

Desainer senior Tanah Air mengakut kaget melihat animo buyers terhadap koleksi busana modest wear bermotif batik sawunggaling yang dibawanya. "Mereka ternyata suka padahal tampilannya kan sangat etnik. Walau pesanan tidak terlalu banyak, tapi itu setidaknya tanda bahwa modest wear dan motif tradisional cukup diminati," ujar Itang.

Produk Indonesia nantinya akan dipamerkan di area 62 meter persegi, lebih besar dari tahun sebelumnya. Beberapa di antaranya juga akan naik pentas saat fashion show dalam gelaran tersebut.

Keikutsertaan para label mendapat dukungan dari Kementerian Perindustrian. Sekretaris Direktorat Jendral Industri Kecil dan Menengah Eddy Siswanto mengatakan, bentuk dukungan diberikan berupa materi untuk menutupi setengah dari biaya pameran.

"Tentunya kami berharap, partisipasi mereka bisa meningkatkan daya saing produk nasional di kancah internasional sehingga mendatangkan keuntungan bagi negara. Baik berupa pajak atau pun lapangan kerja baru. Intinya, dapat meningkatkan kesejahteraan orang banyak," jelas Eddy.


(dtg/eny)