Tenun Ikat Ende, Pesona Wastra dari Timur Indonesia yang Terancam Punah

Daniel Ngantung - wolipop Kamis, 15 Des 2016 14:25 WIB
Foto: Daniel Ngantung Foto: Daniel Ngantung

Jakarta - Sebagai bagian dari warisan budaya, tenun ikat Ende dari Nusa Tenggara Timur (NTT) perlu dijaga keeksistensiannya. Bukan mustahil wastra Nusantara ini akan punah dalam waktu dekat jika masyarakat dan pemerintah tidak saling bahu-membahu melestarikannya.

Kain tenun Ende memancarkan daya tarik tersendiri. Terlihat dari warnanya yang cenderung gelap dan kecoklatan karena proses pewarnaan alami. Selain itu, setiap motifnya menceritakan adat-istiadat dan kepercayaan masyarakat setempat.

Tenun Ikat Ende, Pesona Wastra dari Timur Indonesia yang Terancam PunahAli Abubekar (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)

Seperti motif gajah pada kain Zawo Nggaja Soke Mata Mere yang dibuat dengan perpaduan teknik ikat lungsi dan tenun sederhana. "Gajah dipercayai sebagai binatang kesayangan para dewa," kata Ali Abubekar, penggagas sekaligus pengelola Museum Tenun Ikat Ende saat pembukaan pameran 'Pesona Kain & Budaya Ende' di Museum Tekstil, Jakarta Pusat, Rabu (15/12/2016).

Ada pula kain yang berhiaskan motif-motif mirip huruf kanji. Kain itu, kata Ali, menggambarkan jejak para pendatang dari Indo-China ke Tanah Flores, NTT. Coraknya yang halus namun padat karena terdiri dari motif dan ragam hias menjadi keunikan lain dari tenun ikat Ende.

Tenun Ikat Ende, Pesona Wastra dari Timur Indonesia yang Terancam PunahFoto: Daniel Ngantung

Terlepas dari keistimewaan tersebut, kain Ende terancam punah karena berbagai kendala. Salah satunya datang dari para perajin sendiri.

Dijelaskan Ali, belakangan banyak desainer yang mulai melirik kain tersebut untuk dipakai sebagai material utama. Namun kain yang tersedia umumnya belum sesuai dengan selera pasar, baik dari segi motif maupun warna.

Untuk itu, para perajin diharapkan dapat menghasilkan karya yang dapat memenuhi kebutuhan pasar. "Hanya saja, meyakinkan para perajin untuk membuat sesuatu yang baru tidaklah mudah karena masih terpaku pada pakem tradisional," kata Ali.

Tenun Ikat Ende, Pesona Wastra dari Timur Indonesia yang Terancam PunahFoto: Daniel Ngantung


Hal tersebut seharusnya menjadi momentum kebangkitan kain Ende di tengah popularitas kain batik sekaligus peluang untuk meningkatkan kesejahteraan perajin. Apalagi banyak masyarakat Ende yang menggantungkan hidupnya pada penjualan kain tersebut.

Sejak beberapa tahun terakhir, Ali pun mulai aktif melakukan pembinaan kepada para perajin. Selama pembinaan, ia mengajarkan cara pemakaian warna sintetis sekaligus mengenalkan corak-corak yang menjadi tren pasar tanpa meninggalkan ciri khas kain Ende sendiri. Saat ini, ada 50 perajin yang dibinanya.

Tenun Ikat Ende, Pesona Wastra dari Timur Indonesia yang Terancam PunahFoto: Daniel Ngantung


"Biasanya, lama pengerjaan kain dari pewarna buatan dengan motif yang baru lebih singkat sekitar dua minggu," kata Ali. Dengan waktu yang relatif pendek itu, semakin banyak kain yang dihasilkan sehingga memenuhi kuota permintaan pasar. Untuk kain berwarna sintetis umumnya dipatok minimal seharga Rp 500.000 per lembarnya.

Regenerasi perajin juga menjadi rintangan tersendiri dalam upaya pelestarian tenun Ende. Berdasarkan pengamatan Bernadetha Maria Sere Ngura Aba, pemerhati sosial dan ekonomi tenun Ende, para perajin yang ada sudah berusia lanjut "Generasi muda yang merupakan usia produktif kurang tertarik menjadi perajin. Mereka lebih memilih hijrah ke kota atau negara lain sebagai TKI," kata Sere, sapaan akrabnya.

Sebagai solusi, besar harapan Sere agar pemerintah segera memasukkan muatan lokal tentang pengenalan tenun ikat Ende ke dalam kurikulum sekolah. Dengan begitu, tumbuh kecintaan dan kebanggaan terhadap kain tersebut sejak kecil.

Tenun Ikat Ende, Pesona Wastra dari Timur Indonesia yang Terancam PunahFoto: Daniel Ngantung/Wolipop

"Kalau tidak segera dilakukan, kita tinggal tunggu saja sekitar 20-30 tahun ke depan, tenun Ende benar-benar punah," katanya. Sere juga berharap, pemerintah juga harus bertindak tegas dalam menertibkan peredaran kain printing bermotif tenun Ende di NTT yang datang dari luar daerah.

Upaya pelestarian juga tidak lepas dari dukungan serta apresiasi masyarakat luas. Pameran 'Pesona Kain & Budaya Ende' yang digelar oleh Komunitas Peduli Wastra Indonesia pada 14-20 Desember merupakan upaya untuk memperkenalkan dan mengingatkan masyarakat akan warisan budaya tersebut. Sebanyak 110 kain koleksi Museum Tenun Ikat Ende dipamerkan dalam hajatan tersebut.

"Kain Ende perlu terus diangkat apalagi dengan adanya Masyarakat Ekonomi Asean yang membuat barang-barang luar bebas masuk ke Indonesia. Kalau tidak mendapat tempat di negerinya sendiri, kain ini akan hilang atau diklaim negera lain," kata Ali.

Selain pameran, juga digelar pelelangan kain, busana berbahan tenun Ende rancangan desainer Musa Widiatmodjo, serta lukisan. Dana hasil pelelangan akan disumbangkan untuk mendukung program revitalisasi Museum Tenun Ikat Ende dan pemberdayaan perajinnya.

"Kondisi museum saat ini sangat memprihatinkan. Meski meminjam bangunan milik daerah, biaya pengelolaan tetap dari kantong pribadi dan swasta," ungkap Ali.


(dng/dng)