Kostum Nasional 22 Kg Ini Akan Dipakai Puteri Indonesia di Miss International

Arina Yulistara - wolipop Jumat, 09 Okt 2015 14:05 WIB
Foto: Arina Yulistara/Wolipop
Jakarta -

Miss International 2015 akan dimulai pada 16 Oktober hingga 5 November mendatang. Ketika mengikuti kontes kecantikan dunia itu, perwakilan dari Indonesia, Chintya Fabyola tak hanya bersaing untuk memperebutkan mahkota Miss International tapi juga mendapatkan gelar kostum nasional terbaik. Seperti apa kostum nasional yang akan dibawakan Chintya nanti? Simak detailnya:

Terinspirasi dari Kerajaan Majapahit


Wanita 20 tahun itu akan membawakan kostum bertemakan 'Legend of Tribhuwana Tunggadewi' terinspirasi dari ratu yang pernah memerintah Kerajaan Majapahit. Kostum tersebut dirancang oleh Dynand Fariz dan tim dari Jember Fashion Carnaval (JFC). Dynand mengatakan sosok Tribhuwana Tunggadewi sangat menginspirasi dan menggambarkan kalau wanita bisa menjadi seorang pemimpin.

"Saya ingin Chintya membawa pesan untuk seluruh wanita Indonesia kelak mereka juga bisa memimpin dan menjadi bagian dari kepemimpinan dunia yang berkharisma seperti tercitra dari Ratu Tribhuwana Tunggadewi," jelas Dynand saat berbincang di Gedung Graha Mustika Ratu, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (8/10/2015).

Berat 22 Kilogram


Kostum yang dibuat selama kurang lebih dua bulan itu memiliki berat 22 kilogram. Bagian terberat ada pada dekorasi lempengan emas yang menjulang tinggi di bagian belakang punggung Chintya. Tidak hanya itu, bagian kepalanya juga dipasangkan mahkota bertingkat dengan desain serupa seperti perisai di sisi kanan dan kirinya. Meski demikian, Chintya mengatakan tidak merasa kalau kostum ini akan menyulitkan serta membebaninya nanti ketika bersaing di panggung Miss International 2015.

"Saya nggak merasa ini memberatkan. Coba bayangkan saat kalian akan naik ke panggung yang megah walaupun bajunya berat tapi nggak akan terasa berat. Saya mencoba kostum ini nggak hanya sekali dua kali, sebelumnya saya juga pernah pakai baju yang beratnya 7,5 kilogram itu hanya menempel di badan saja. Lalu kalau ditanya paling sulit pakai yang mana, menurut saya bagian sayap karena butuh bantuan seseorang untuk memakainya dan nanti di sana saya sendirian," terang Runner up 1 Puteri Indonesia yang mengambil pendidikan di Politeknik Negeri Pontianak itu.

Lambang Majapahit


Ukiran lambang Majapahit yakni Surya Majapahit tampak terlihat jelas dalam bentuk lempengan bulat besar di kostum yang dipakai oleh Chintya. Ukiran tersebut terinspirasi dari seni arsitektur yang tertuang pada candi peninggalan Majapahit sebagai lambang kerajaan. Dynand mengatakan kostum ini merefleksikan sosok wanita yang feminin, anggun, tapi tangguh dan berwibawa.

Material Kostum
Perancang kostum yang mengajar di sekolah mode ESMOD Jakarta itu juga menjelaskan sedikit mengenai materialnya. Ia bersama tim JFC memakai lempengan-lempengan besi bernuansa gold sesuai dengan ciri khas kerajaan. Material besi tersebut juga dikombinasikan dengan matras. Sedangkan kain bawahnya menggunakan songket bernuansa ungu yang diberi detail bordir serta manik-manik. Perpaduan palet ungu dan emas merupakan simbol dari keluarga kerajaan.


Bagian kepalanya juga dilengkapi dengan rambut panjang buatan yang menjuntai hingga pinggang. Rambut dikelilingi lempengan besi emas yang dikatakan Dynand tidak perlu dirombak saat dipakai tapi bisa langsung di letakkan di atas kepala.

Harapan Desainer


Di akhir perbincangan, Dynand berharap karya yang dibuat olehnya bersama tim JFC bisa mengharumkan nama Indonesia di ajang Miss International. "Semoga tahun ini Tuhan memberikan kesempatan untuk Indonesia agar bisa meraih kembali penghargaan kostum nasional terbaik. Dalam pembuatannya pun tidak ada kesulitan karena kita mengerjakannya dengan niat dan dari hati," tandasnya.

Tahun lalu, Elfin Pertiwi Rappa, runner up 1 Puteri Indonesia 2014 berhasil menorehkan prestasi di ajang Miss International 2014 yang juga digelar di Tokyo, Jepang. Mengenakan busana terinspirasi adat Lampung, Elfin membawa pulang gelar Best National Costume.

(aln/aln)