ADVERTISEMENT

Mengenal Perhiasan Tradisional Indonesia Lewat Manjusha Nusantara

- wolipop Senin, 27 Okt 2014 07:32 WIB
Dok. Intan Kemala Sari/Wolipop
Jakarta -

Sebagai negara yang kaya akan warisan budaya bernilai seni tinggi, Indonesia memiliki banyak hasil seni yang dapat menjadi kebanggaan, salah satunya adalah perhiasan. Benda yang identik sebagai teman sejati wanita ini bisa merepresentasikan sebuah kebudayaan karena di dalamnya terdapat filosofi atau sejarah yang menggambarkan keindahan dari masing-masing daerah di Indonesia.

Berdasarkan hal ini empat orang wanita yang mempunyai kecintaan terhadap perhiasan asli Indonesia mendirikan Manjusha Nusantara. Mereka adalah Ina Symonds, Ria Wulandari, Terry Supit dan Yasmin Wirjawan yang mengaku gemar menggunakan perhiasan asli Indonesia namun merasa kesulitan untuk menemukannya hingga harus bergantian memakainya. Kini setelah menjadi pelaku seni yang telah berkarya dari tahun 2011, Manjusha Nusantara menghadirkan koleksi terbaru bertajuk Magnum Opus yang mempunyai arti karya yang indah.

Magnum Opus menampilkan replika perhiasan tradisional yang terdiri dari beragam kalung, gelang, cincin, hingga tusuk konde dengan tema tribal yang sengaja dihadirkan untuk mengingatkan kembali akan beragam jenis perhiasan antik yang dimiliki Indonesia. Meski ukurannya yang besar dan detailnya yang cenderung lebih sederhana, namun pengerjaannya dilakukan secara cermat.

Koleksi baru tersebut tidak hanya berasal dari satu kota saja. Beberapa daerah pengrajin perhiasan di Indonesia seperti Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, dan Sulawesi Tengah menjadi tempat persinggahan Manjusha Nusantara dalam mencari inspirasi serta menggali lebih dalam lagi tentang filosofi dan keunikan perhiasan tradisional Indonesia.

Tidak hanya itu saja, lewat karya terbarunya ini, Manjusha Nusantara juga membawa misi mulia yang ditujukan kepada wanita Indonesia. "Kalau dulu kan perhiasan Indonesia biasanya dipakai untuk melakukan ritual adat, tapi kita disini ingin mengajak wanita Indonesia untuk menggunakannya sebagai fashion sehari-hari," ungkap Ina Symonds ketika berbincang dengan media di acara Bazaar Fashion Festival, Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat (26/10/2014).

Diaku Ria, salah satu pendiri Manjusha, perhiasan yang dihadirkan dikemas berdasarkan riset dan proses pengembangan filosofi yang panjang. Misalnya saja kalung Taiganja yang berasal dari daerah Kulawi, Sulawesi Tengah. Konon katanya kalung yang berbentuk leontin ini dipakai sebagai lambang kesuburan, kemakmuran, dan status sosial dari seseorang. Semakin tinggi kedudukannya semakin banyak Taiganja yang dimilikinya.

Menariknya, teknik pembuatannya pun dibuat lebih ringan tanpa menghilangkan orisinalitasnya. "Semua warna dibuat semirip mungkin dengan yang aslinya. Tetapi tentunya hasilnya tidak bisa sama persis dengan asli, karena perhiasan ini sudah berumur 60 tahun lebih, jadi ada beberapa detail yang sudah hilang, lalu kita modifikasi," papar Ria sambil memamerkan beberapa koleksinya.

Modifikasi yang dilakukan biasanya berupa ukiran dan beberapa detail kecil lainnya. "Dulu ada kalu berbentuk amulet yang isinya mantra atau tulisan kuno. Gunanya untuk menolak bala. Di zaman sekarang kita sudah tidak bisa pakai yang seperti itu, jadi kita ubah sedikit namun dijelaskan dulu filosofinya," tambahnya lagi.

Lebih lanjut Ria menambahkan, seluruh perhiasan replika ini dibuat dari bahan dasar tembaga yang dicampur dengan perak, kemudian disepuh dengan emas 24 karat atau perak berkadar tinggi. Hal ini juga dilengkapi dengan teknik pemolesan akhir yang khusus untuk mendapatkan warna ciri khas Manjusha Nusantara yang didominasi dengan warna emas terang dan perak mengkilap.

Sebelum memamerkan koleksinya, Manjusha Nusantara melewati proses panjang dan berliku-liku. Meski berbentuk replika, perhiasan tradisional ini dibuat secara khusus menggunakan tangan agar keasliannya tetap terjaga. Namun dalam proses pembuatannya, banyak kendala yang dihadapi. Keterbatasan kuantitas serta kualitas menjadi salah satu tantangan besar bagi merek lokal ini.

"Kita menargetkan satu model perhiasan dibuat hanya 10 sampai 15 buah. Tetapi dalam kenyataannya, setelah proses quality control dan hasil akhir yang dicapai, yang jadi hanya tiga buah," pungkas Ina Symonds di akhir perbincangan.

(int/aln)