Liputan Khusus Desainer Hijab

Jenahara, Putri Ida Royani yang Sukses Jadi Desainer Tanpa Bantuan Orangtua

- wolipop Jumat, 08 Agu 2014 09:13 WIB
Foto: M. Abduh/Wolipop Foto: M. Abduh/Wolipop

Jakarta - Perkembangan hijab di Indonesia semakin pesat. Hal tersebut memicu banyak wanita muda yang ingin terjun menekuni bisnis fashion terutama setelah melihat kesuksesan ikon-ikon hijabers muda, salah satunya Jenahara Nasution. Wanita cantik dengan nama lengkap 'Nanida Jenahara Nasution' itu kini dikenal sebagai desainer muda sukses yang telah memamerkan rancangannya hingga ke luar negeri.

Ketika berbincang dengan Wolipop, wanita yang kerap disapa Jehan ini bercerita mengenai awal mulanya terjun ke dunia fashion. Jehan mengaku sudah jatuh cinta dengan dunia fashion sejak kecil. Kecintaannya di dunia fashion juga dipengaruhi oleh sang ibunda yang merupakan seorang aktris sekaligus desainer kondang Indonesia, Ida Royani.

Jehan pun merasa darah desainer mengalir di tubuhnya. Oleh karena itu, ia juga memutuskan untuk memulai karier sebagai perancang busana muslim. Namun tidak mudah bagi Jehan ketika awal membangun label pertamanya yang dinamai 'Jenahara' walaupun sang ibu berprofesi sebagai desainer. Jehan dengan tegas mengatakan kalau awal membangun label fashion miliknya tidak ada campur tangan ibunya.

"Aku memang bikin Jenahara itu dari nol banget, kalau orang nggak tau, dia bilangnya aku dibantu mama. Aku mulai dari nol dengan modal sendiri karena aku pengen maju karena usahaku bukan mamaku. Sampai Jenahara keluar pun mama nggak tau aku bikin label, justru dia tahu dari teman-temannya," tutur Jehan saat berbincang dengan Wolipop melalui telepon beberapa waktu lalu.

Jehan merilis label Jenahara di 2011 namun sebenarnya konsep label tersebut sudah dibuat sejak 2006. Salah satu pendiri Hijabers Community Indonesia itu mengatakan kalau di 2006, busana muslim belum booming seperti saat ini. Oleh karena itu ia memutuskan untuk menundanya sekaligus membuat konsep labelnya semakin matang.

Jehan pun sempat vakum setelah 2006 karena menikah dan punya anak. Ia baru memutuskan memperkenalkan label pertamanya itu setelah hijab mulai bervariasi dan terus berkembang di Indonesia. Keputusan Jehan saat itu tepat dan kini ia telah memetik hasilnya.

"Tahun 2006 hijab masih milik orangtua. Kalau sekarang sudah banyak ketemu orang berhijab, dulu nggak kayak gitu, aku waktu itu ingin menunggu momen yang tepat, belum mulai muncul komunitas hijabers seperti Hijabers Community," tambah wanita lulusan LPTB Susan Budiharjdo itu.

Wanita kelahiran 27 Agustus 1985 ini juga mengatakan bahwa memulai usaha dari nol itu cukup sulit. Ia pun harus berkolaborasi dengan kerabat dekatnya agar bisa berhasil membangun label pertamanya. Semua ia kerjakan sendiri mulai dari membeli bahan hingga mencari penjahit untuk menyelesaikan koleksi pertamanya.

Bahkan ia pernah hampir pingsan karena harus berkeliling mencari bahan saat sedang hamil tujuh bulan. Hal itu menjadi kenangan yang tidak pernah ia lupakan sampai saat ini.

"Lagi hamil tujuh bulan waktu itu kecapean banget hampir mau pingsan tapi aku merasa ini passion aku, jadi aku nggak pernah berat hati menjalaninya," ujar Jehan ramah.

Kerja kerasnya itu kini sudah terbayar dengan hasil yang cukup memuaskan. Selain laku di pasaran, koleksi Jenahara sudah pernah dipamerkan di luar negeri seperti di Hong Kong, Thailand, hingga Milan. Saat ini ia terus menginovasi produknya agar semakin disukai masyarakat.
(aln/eny)