Intimate Interview

Peggy Hartanto, Dikenal Selebriti Dunia Setelah Ikut Kompetisi Fashion

- wolipop Rabu, 21 Agu 2013 08:05 WIB
dok. Peggy Hartanto dok. Peggy Hartanto

Jakarta - Butuh perjuangan untuk Peggy Hartanto memperkenalkan label busananya ke dunia internasional hingga dipakai selebriti dunia. Perjuangan itu dilaluinya dengan senang hati karena fashion memang sudah menjadi hobinya sejak dulu.

Desainer kelahiran 19 April 1988 itu pun mantap memilih bidang fashion saat kuliah di Australia. Hobinya itu kemudian berubah menjadi passion dan dia berkomitmen untuk berkarir sebagai seorang desainer.

Peggy memilih kuliah di Raffles College of Design and Commerce, Australia untuk mewujudkan impiannya menjadi desainer. Saat masih menjadi mahasiswi di sana, dia tidak hanya menuntut ilmu saja. Apalagi pada dasarnya dia termasuk orang yang sangat kompetitif dan suka bekerja keras mengejar apa yang sudah ditargetkannya.

Selama menjadi mahasiswi, wanita yang besar di Surabaya, Jawa Timur itu mengikuti beberapa kompetisi fashion di Australia. Beberapa penghargaan berhasil diraihnya dari kompetisi tersebut. Misalnya saja Provost's Award For Creative Achievment (2008), menjadi juara kedua dalam bidang tenun di The Australian Wool Fashion Awards 2009 dan juara pertama Kinokuniya Digital Art Prize 2009. Selain itu dia juga dia berhasil lulus menjadi mahasiswi terbaik di bidang fashion design dari Raffles College of Design and Commerce pada 2009.

Setelah lulus, berbagai prestasinya itu membuatnya terpilih mengikuti kompetisi yang diadakan kampusnya untuk para almuni. Tiga alumni terbaik yang terpilih mendapatkan kesempatan untuk menampilkan karya mereka di Rosemount Australian Fashion Week 2011. Di sana jugalah Peggy meluncurkan koleksi pertamanya.

"Tahun 2012, saya mendapatkan tawaran lagi untuk bergabung dalam show Raffles Institute of Higher Education di Jakarta Fashion Week 2013. Dari JFW tersebut terbukalah jalan yang membuat label ini lebih dikenal secara lokal dan internasional," cerita Peggy dalam wawancara dengan wolipop melalui email.

Selama kuliah di Raffles, Peggy tidak hanya mendapatkan pengalaman berharga. Dia juga memperoleh banyak ilmu, terutama dari mentornya, Robert de Giovanni. Pria itulah yang menjadi inspirasinya dalam merilis karya fashion.

"For his super strict approval and expectation for every single project, he really pushes me to my limits. His presence during my studies gave huge impact in my design and working philosophy," begitu kenang Peggy mengenai mentornya.

Peggy kembali ke Indonesia pada 2011. Sebelumnya setelah lulus kuliah, dia sempat bekerja di salah satu high end fashion brand di Australia, Collette Dinnigan. Berbekal berbagai pengalamannya tersebut, dia pun mantap merilis label busana dengan namanya sendiri PEGGY HARTANTO setelah kembali ke tanah air.

Saat merilis label busana tersebut, sejumlah kendala pun ditemuinya. Di awal karirnya, Peggy belum memiliki tim sehingga sebagian besar pekerjaan dikerjakan sendiri. Pengalaman minim di dunia fashion Indonesia juga menjadi kesulitannya. Pilihannya untuk membangun karir di Surabaya ikut menjadi kendala terutama ketika akan mendesain suatu koleksi. Dia merasa adanya keterbatasan dalam pemilihan material busana yang tersedia di kota tersebut.

Memulai karir dari nol hingga kini namanya mulai dikenal di dunia internasional menjadi pengalaman berharga untuk Peggy. Apalagi dalam membangun karirnya ini dia menggunakan modal yang berasal dari hasil kerjanya selama membanting tulang di Sydney, Australia.

"Menjadi fashion designer membutuhkan tekad dan komitmen yang tinggi. Kita harus bekerja sangat keras dan tekun dan berkorban banyak waktu untuk memulai karir di bidang ini. At least we have to work 14 hours a day," begitu kata desainer yang menyukai rancangan Riccardo Tisci, Alexander McQueen, dan Dion Lee itu.

Meskipun harus bekerja keras hingga belasan jam, Peggy menganggap semua itu terbayarkan ketika melihat hasil karyanya ditampilan di runway. "Saat melihat hasil kerja keras kita di runway dan mendapatkan respon yang positif dari media dan penonton, kepuasan itu tidak ternilai harganya," ujarnya.





(eny/kik)