Liputan Khusus

Kendala Desainer Go International: Anggapan Brand Indonesia Pasti Jelek

- wolipop Jumat, 28 Sep 2012 09:44 WIB
dok. Ardistia
Jakarta - Memasarkan produk fashion di luar negeri memang menguntungkan. Selain lebih dikenal, desainer lokal juga bisa menjual karya dengan harga yang lebih mahal dibanding di negeri sendiri. Namun, hati-hati dengan kendala yang mungkin terjadi selama proses bisnis berlangsung. Apalagi bagi Anda desainer lokal yang baru ingin memulai ekspansi ke luar.

Nina Nikicio, desainer muda Indonesia yang sempat menjual karyanya ke negara-negara tetangga seperti Singapura, Kuala Lumpur, Australia, Miami, bahkan sampai Amsterdam itu, berbagi pengalamannya selama mendalami industri fashion. Brand Nikicio buatan Nina yang sudah cukup terkenal di negeri sendiri ini, juga banyak menemui kendala pada awal dia mencoba go international. Bahkan ditolak di beberapa tempat pernah dirasakannya.

"Sama ajalah kayak di sini, ditolak iya, dan kadang mereka suka 'judgmental' banget. Mereka pikir brand dari Indonesia itu jelek, nggak sangguplah compare sama brand luar. Tapi itu justru yang pengen aku buktiin kalo kualitas tuh makin lama harus makin bagus," ungkapnya saat berbincang dengan wolipop di Goods Dept, Pacific Place, Jakarta Selatan, Rabu (26/9/2012).

Kendala lainnya ketika menjual produk fashion ke luar negeri adalah promosi dari brand itu sendiri. Jika promosi kurang berjalan, justru bisnis akan rugi karena tidak murah membayar sewa tempat dan bahan yang digunakan. Jangan sampai, justru bisnis tidak berjalan karena tidak ada penjualan.

Selain itu, kompetitor dari brand-brand ready-to-wear di negara-negara luar juga bisa menyulitkan. Untuk itu Anda harus mengakalinya dengan berani membuat sesuatu yang unik dan berkualitas serta diimbangi harga yang terjangkau dan dapat bersaing.

Nina sendiri saat ini sudah sukses memasarkan produk-produknya di Singapura dan Malaysia. Di dua negara tersebut dia menaruh barang-barang Nikico di sejumlah butik multibrand.

Bagi Anda desainer muda yang juga ingin mencoba go international, wanita lulusan Lasalle College ini memberikan beberapa sarannya. "Pertama, barangnya sendiri kualitasnya harus bagus, tidak kalah sama brand-brand internasional. Selain itu, juga sudah harus punya based di lokal dulu, dan basednya harus jalan. Kalau dia di lokal aja nggak jalan gimana mau ke internasional?" urai wanita pecinta travelling itu.

Selain Nina, desainer muda lainnya yang juga sudah go international adalah Ardistia Dwiasri. Wanita yang bermukim di New York ini sukses memasarkan karya-karyanya di sejumlah butik di Amerika Serikat dan berbagai belahan dunia lainnya seperti Prancis, Jepang, Korea dan Turki.

Untuk Ardistia yang mulai memasarkan lini 'ArdistiaNewYork' pada 2006 itu, kendala yang dialami di awal adalah terbatasnya tenaga kerja. "Sebagian besar terbatasnya tenaga kerja karena kita harus bisa mengerjakan banyak tugas sekaligus. Dan kita juga harus hati-hati dalam menentukan langkah, apalagi untuk sukses," papar desainer kelahiran 5 Juli 1979 itu.

(eny/kik)