Apa Itu Stoicism, Istilah Populer Karena Konten Mindfullness Maudy Ayunda
Istilah Stoicism ramai dibicarakan setelah Maudy Ayunda membahasnya dalam konten mengenai cara menghadapi banyaknya kabar buruk yang muncul di Indonesia. Maudy membicarakan topik tersebut melalui video YouTube berjudul Mindfulness in the Age of Bad News yang diunggah pada 21 Agustus 2026. Dalam video itu, ia menceritakan pengalamannya menghadapi berbagai informasi negatif, seperti bencana alam, kelangkaan BBM, kebakaran hutan, hingga persoalan kebijakan pemerintah.
Ia mengatakan bahwa dirinya berusaha menyaring informasi agar tidak merasa terlalu terbebani secara mental. Namun, pernyataan tersebut kemudian menuai kritik dari sejumlah netizen. Sebagian orang menilai tidak semua orang memiliki pilihan untuk mengambil jarak dari berita, terutama ketika masalah tersebut berdampak langsung pada kehidupan mereka.
Maudy kemudian memberikan klarifikasi dan meminta maaf. Ia juga mengakui bahwa kemampuan untuk menjauh sejenak dari pemberitaan merupakan sebuah privilese yang tidak dimiliki semua orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pembahasannya, Maudy turut mengaitkan rasa kewalahan dengan prinsip Stoicism. Menurutnya, seseorang bisa merasa lebih tenang ketika memahami batas tanggung jawab dan hal-hal yang masih berada dalam kendalinya. Lantas, apa sebenarnya Stoicism?
Apa Itu Stoicism?
Melansir Daily Stoic, Stoicism merupakan filsafat kuno yang mengajarkan seseorang untuk menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana, kuat, dan mampu menghadapi berbagai tantangan.
Stoicism sering kali disalahartikan sebagai sikap tidak memiliki emosi atau harus selalu terlihat kuat. Padahal, filosofi ini tidak mengajarkan seseorang untuk menghilangkan perasaan.
Sebaliknya, Stoicism membantu seseorang memahami bagaimana menghadapi sesuatu yang terjadi dalam hidup dengan lebih bijak. Salah satu gagasan pentingnya adalah memahami mana hal yang bisa dikendalikan dan mana yang berada di luar kendali. Dengan memahami batas tersebut, seseorang diharapkan tidak menghabiskan terlalu banyak energi untuk hal-hal yang memang tidak dapat diubah.
Bagaimana Stoicism Dimulai?
Stoicism bermula di Athena, Yunani, sekitar abad ke-3 sebelum Masehi. Filosofi ini dikembangkan oleh Zeno dari Citium, seorang pedagang yang kemudian mendalami filsafat setelah mengalami kapal karam dan kehilangan hampir seluruh hartanya.
Zeno dan para pengikutnya biasa berdiskusi di sebuah tempat yang disebut Stoa Poikile, atau "serambi yang dicat". Dari tempat inilah istilah Stoicism kemudian berasal.
Seiring waktu, Stoicism berkembang menjadi salah satu aliran filsafat yang berpengaruh. Beberapa tokoh Stoik yang paling dikenal adalah Marcus Aurelius, Seneca, dan Epictetus.
Apa yang Diajarkan Stoicism?
Secara sederhana, Stoicism mengajak seseorang untuk lebih fokus pada hal-hal yang memang bisa dilakukan dan dikendalikan Misalnya, seseorang mungkin tidak bisa mengendalikan munculnya berita buruk, keputusan orang lain, atau berbagai peristiwa yang terjadi di luar dirinya. Namun, ia masih dapat menentukan bagaimana merespons keadaan tersebut dan tindakan apa yang bisa dilakukan.
Karena itu, Stoicism bukan berarti seseorang harus bersikap cuek terhadap masalah di sekitarnya. Filosofi ini justru dapat digunakan untuk membangun ketenangan, ketahanan diri, kebijaksanaan, dan kemampuan mengambil tindakan ketika menghadapi situasi sulit.
(vio/vio)









































