Viral Bocah Ini 'Kerja' Beres-Beres Rumah 4 Tahun Demi Beli Tiket Piala Dunia
Bagi sebagian besar anak berusia enam tahun, uang saku biasanya dihabiskan untuk membeli mainan atau camilan. Namun, tidak bagi Valentino Sanabria. Bocah asal Boca Raton, Florida, Amerika Serikat, ini sudah memiliki impian besar menonton langsung tim sepak bola idolanya di ajang bergengsi Piala Dunia FIFA.
Kisah ini bermula pada tahun 2022. Setelah dengan penuh semangat menyaksikan tim nasional Uruguay memenangkan pertandingan Piala Dunia di televisi, Valentino yang saat itu baru berusia 6 tahun langsung menatap ibunya. Ia mengungkapkan impiannya bahwa ketika turnamen akbar tersebut digelar di Amerika Serikat empat tahun kemudian, ia harus ada di sana.
Mendengar impian besar anak, sang ibu, Carolina, memberikan sebuah penawaran yang menantang, Valentino harus bekerja menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga, seperti mencuri piring, menyapu dan sebagainya. Ia akan dibayar sebesar $2 (sekitar Rp 32.000) untuk setiap tugas yang diselesaikan. Uang itu lah yang nantinya harus dikumpulkan untuk membeli tiket. Tanpa ragu, Valentino menerima tantangan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bocah 10 tahun disiplin menabung dari upah tugas rumah selama 4 tahun demi beli tiket Piala Dunia. Hasil jerih payahnya kini sukses wujudkan impian besarnya. Foto: Dok. People & Carolina Serna. |
"Jadi setiap hari sebelum berangkat sekolah, aku bangun jam 6 pagi untuk merapikan tempat tidur, menyiapkan sarapan sendiri, membuang sampah, dan mencuci piring," kenang Valentino yang kini bersiap masuk kelas 5 SD dikutip dari People.
Bagi orang-orang yang mengenal Valentino sebagai pribadi yang gigih, pencapaian bocah ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Selama empat tahun, ia dengan disiplin menyimpan setiap Dolar yang dihasilkannya hingga berhasil mengumpulkan lebih dari $600 (sekitar Rp 9,8 Juta). Uang tersebut akhirnya cukup untuk membeli dua pasang tiket pertandingan tim favoritnya, Uruguay, yang berlaga di Hard Rock Stadium, Miami.
"Aku berteriak. Aku berlari keliling rumah. Aku sangat bahagia! Ya Tuhan, aku bahkan sampai melompat ke kolam renang dan melakukan salto di dalam rumah. Aku benar-benar gila karena sangat senang," ungkap Valentino saat menceritakan momen ketika ia berhasil mendapatkan tiket tersebut.
Rasa bahagia itu membayar lunas ratusan hari yang dilewati Valentino dengan bangun sebelum matahari terbit, di saat teman-teman sekelasnya masih tertidur lelap. Pada hari-hari yang sibuk, ia bahkan bisa menghasilkan hingga $10 atau sekitar Rp 160 Ribu sehari.
Uang tunai itu ia jejalkan ke dalam sebuah dompet besar yang kini bahkan sudah sangat sulit untuk ditutup karena terlalu penuh. Carolina membeberkan bahwa rahasia kesuksesan anaknya bukan hanya dari uang hasil kerja kerasnya sendiri, melainkan juga dari sifatnya yang hemat.
"Dia tidak hanya menyimpan uang hasil beres-beres rumah, tapi juga setiap hadiah ulang tahun yang pernah dia dapatkan. Setiap hari libur atau perayaan ketika pamannya memberi uang saku untuk jajan, dia akan menyimpan semuanya," kata Carolina bangga.
Tentu saja, perjalanan empat tahun tidak selalu mulus. Sering kali Valentino merasa goyah dan ingin menyerah.
"Aku selalu tergoda untuk membelanjakan sebagian uangku untuk membeli mainan, atau jika aku ingin pergi ke suatu tempat dan membeli sesuatu. Tapi aku menahannya karena aku tahu semua ini akan sangat sepadan demi bisa pergi ke Piala Dunia," jelas Valentino.
Ia juga mengaku sempat meragukan dirinya sendiri apakah targetnya akan tercapai. Namun, setiap kali keraguan itu muncul, ia akan menonton pertandingan sepak bola profesional bersama kakeknya untuk mengembalikan motivasi.
Kecintaan Valentino pada sepak bola sudah tumbuh sejak usia prasekolah. Carolina mengenang momen saat putranya memutuskan untuk setia pada satu olahraga saja.
"Saat berusia enam tahun, dia bilang dia tidak mau ikut olahraga lain lagi. Dia hanya ingin fokus pada sepak bola. Dia benar-benar terobsesi dan sepanjang hari hanya ingin bermain bola, bola, dan bola," tutur Carolina.
Kini, Valentino bermain sebagai penyerang sayap kiri, sayap kanan, atau striker di tim kompetitif lokal, dan bermimpi untuk menjadi pemain profesional di masa depan. Impian itu terasa kian dekat ketika timnya berkesempatan melakukan pertandingan uji coba melawan tim nasional Curacao yang sedang berlatih di Florida Atlantic University.
"Itu sangat menyenangkan, kami bermain imbang 1-1 dan itu keren sekali. Rasanya gila, kemampuan mereka sudah berada di level yang berbeda. Bisa bermain dengan mereka adalah pengalaman luar biasa yang hanya terjadi sekali seumur hidup," kata Valentino antusias.
Melihat kedisiplinan sang putra, Carolina sama sekali tidak meragukan masa depan Valentino di dunia sepak bola.
"Dia sangat bersemangat dan disiplin dengan semua yang dia lakukan. Dia tidak pernah mau melewatkan latihan sepak bola atau pertandingan. Pada akhirnya, hal terpenting adalah dia berkomitmen dan bertanggung jawab atas tindakan serta impiannya. Dia bilang dia akan pergi ke Piala Dunia, dan dia membuktikannya," tegas Carolina.
Cinta mendalam Valentino pada timnas Uruguay ditularkan oleh ayahnya yang tinggal di sana, serta anggota keluarga lainnya. Dua tahun lalu, ia bahkan sempat bertemu langsung dengan beberapa pemain Uruguay di Miami dan berhasil mendapatkan tanda tangan di dua jersei miliknya yang kini dipajang di kamar.
Saat pertemuan itu, Valentino sempat bercerita kepada para pemain bahwa ia sedang menabung demi bisa menonton mereka bertanding. "Mereka merespons, 'Wah, itu keren sekali. Kami harap kamu bisa datang nanti,'" kenang Valentino menirukan ucapan para pemain idolanya.
Kini, impian itu telah menjadi kenyataan. Valentino menggunakan tiket hasil jerih payahnya sendiri untuk mengajak sang ibu menonton laga Uruguay melawan Arab Saudi pada 15 Juni, dan mengajak sang kakek untuk menonton laga melawan Tanjung Verde pada 22 Juni.
"Atmosphere-nya pasti akan gila dan sangat panas. Aku akan sangat menyukainya, aku tahu aku pasti akan menyukainya!" seru Valentino.
Seolah tidak ingin cepat puas, Valentino kini sudah menetapkan target baru yang lebih besar, yaitu menonton pertandingan final Piala Dunia FIFA di MetLife Stadium. Tentu saja, ini berarti ia harus merapikan lebih banyak tempat tidur dan membuang lebih banyak sampah lagi ke depannya.
"Aku masih terus mengumpulkan uang dan ingin melihat apakah aku bisa menonton pertandingan lainnya lagi. Jika aku bisa pergi ke pertandingan final, itu akan sangat luar biasa. Itulah impian terbesarku sekarang!" pungkasnya menutup pembicaraan.
(gaf/eny)












































