Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Kontroversi Koh-i-Noor, Berlian dari India yang Diwariskan ke Ratu Camilla

Kiki Oktaviani - wolipop
Jumat, 01 Mei 2026 07:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Mahkota Permaisuri Camilla Tak Akan Tampilkan Berlian Kohinoor, Tapi Berlian Penggantinya pun Kontroversial
Foto: ABC Australia
Jakarta -

Berlian Koh-i-Noor dikenal sebagai salah satu perhiasan paling ikonik milik kerajaan Inggris, sekaligus yang paling kontroversial. Permata seberat 105,6 karat ini menjadi bagian dari Crown Jewels, namun setiap kali kembali dibahas dalam konteks kerajaan modern, polemik lama soal asal-usulnya ikut mencuat. Pertanyaan utamanya tetap sama yakni bagaimana berlian ini bisa berpindah dari India ke Inggris?

Berlian Koh-i-Noor terpasang pada mahkota milik Ratu Elizabeth (ibu dari Ratu Elizabeth II), yang dibuat pada 1937 untuk penobatan Raja George VI. Mahkota tersebut dihiasi sekitar 2.800 berlian, dengan Koh-i-Noor menjadi pusat perhatian di bagian depan.

Setelah Ratu Elizabeth wafat pada 2002, mahkota itu sempat diletakkan di atas peti jenazahnya sebagai penghormatan terakhir. Sejak itu, mahkota tersebut menjadi bagian dari koleksi publik di Tower of London.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara teknis, kepemilikannya kemudian diwariskan oleh Ratu Elizabeth II kepada Camilla, istri Raja Charles. Namun saat penobatan Raja Charles III, perhatian publik sempat tertuju pada kemungkinan Camilla akan mengenakan mahkota dengan Koh-i-Noor. Untuk menghindari kontroversi yang berpotensi muncul, ia memilih menggunakan mahkota Ratu Mary yang telah dimodifikasi.

Mahkota Ibunda Ratu Elizabeth II dengan berlian Kohinoor yang terkenal, difoto pada 19 April 1994.Mahkota Ibunda Ratu Elizabeth II dengan berlian Kohinoor yang terkenal, difoto pada 19 April 1994. Foto: Time

Di balik statusnya sebagai perhiasan kerajaan, Koh-i-Noor menyimpan sejarah panjang yang berakar di India sejak abad ke-15. Catatan awal menunjukkan berlian ini sudah dikenal pada masa Kekaisaran Mughal, bahkan pernah menghiasi Tahta Merak milik Shah Jahan.

ADVERTISEMENT

Seiring waktu, berlian ini berpindah tangan melalui berbagai penaklukan, dari penguasa Persia hingga akhirnya berada di bawah kerajaan Sikh yang dipimpin Maharaja Ranjit Singh.

Titik paling kontroversial terjadi pada 1849. Dalam situasi politik yang tidak seimbang, Maharaja muda Duleep Singh yang saat itu baru berusia 10 tahun dipaksa menandatangani dokumen penyerahan Koh-i-Noor kepada Inggris. Sejak momen itulah berlian ini menjadi milik Ratu Victoria, dan terus diwariskan dalam lingkaran kerajaan Inggris hingga sekarang.

Hingga hari ini, kontroversi tersebut belum benar-benar mereda. India telah berulang kali meminta pengembalian Koh-i-Noor sejak merdeka pada 1947. Bahkan baru-baru ini, Wali Kota New York, Zohran Mamdani, kembali mengangkat isu tersebut.

"Jika saya berbicara secara terpisah dengan Raja, saya mungkin akan mendorongnya untuk mengembalikan berlian Koh-i-Noor," ujar Wali Kota keturunan Amerika-India itu sebelum bertemu Raja Charles, seperti dikutip dari Independent.

Meski belum ada konfirmasi apakah hal tersebut dibahas langsung, pernyataan itu menunjukkan bahwa tekanan internasional masih terus ada. Di sisi lain, narasi resmi kerajaan Inggris menyebut Koh-i-Noor sebagai objek yang dipenuhi mitos dan anekdot, serta menyatakan bahwa berlian itu "diberikan" kepada Ratu Victoria pada 1849. Namun, banyak pihak menilai istilah tersebut tidak mencerminkan realitas sejarah.

"Orang-orang diajarkan bahwa ini adalah hadiah dari India ke Inggris. Saya ingin sejarah yang sebenarnya ditampilkan bersama berlian itu," kata sejarawan Anita Anand.

Bagi India, Koh-i-Noor bukan sekadar permata, melainkan simbol dari sesuatu yang diambil dalam kondisi yang tidak setara. Tak heran, hingga kini berlian tersebut masih menjadi sumber perdebatan yang belum menemukan titik akhir.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads