Fenomena HopeTok, Cara Gen Z Lawan Kecemasan Lewat Konten Positif
Di tengah tahun yang dipenuhi ketidakpastian global, gen Z diam-diam memulai bentuk perlawanan baru di dunia digital. Bukan lewat protes atau politik, melainkan lewat hal yang lebih sederhana yakni berbagi energi positif. Tren ini dikenal sebagai HopeTok, fenomena yang ramai di TikTok dan Instagram Reels, berisi konten tentang self-growth, journaling rasa syukur, hingga kesehatan mental.
Jika tren 2023 seperti 'bedrotting' dan 'delulu' cenderung mengarah pada sikap apatis dan pelarian dari realita, HopeTok justru menunjukkan perubahan arah budaya digital. Kreator kini memenuhi feed dengan rutinitas pagi, afirmasi positif, dan momen 'glow-up era', versi internet yang lebih lembut dan menenangkan.
Menjelajahi tagar #HopeTok terasa seperti mendapatkan harapan baru. Kreator seperti Tabitha Brown dan Teia Collier meraih jutaan penonton lewat konten sederhana seperti tips journaling, afirmasi ala terapi, hingga cara kecil untuk jatuh cinta lagi dengan hidup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut laporan tren 2025 dari TikTok, konten gaya hidup positif mengalami lonjakan engagement lebih dari 120%, terutama di kalangan usia 18-25 tahun. Perubahan ini bukan kebetulan. Paparan berita negatif yang terus-menerus membuat banyak pengguna mulai lebih selektif terhadap apa yang mereka konsumsi.
"Orang-orang lelah merasa putus asa. HopeTok bukan toxic positivity, ini soal bertahan secara emosional di dunia online," ungkap sosiolog digital Emma Geller kepada The Guardian.
Meski berakar dari kebutuhan emosional, dampak HopeTok juga terasa di dunia bisnis. Tren seperti gentle productivity, journaling, dan mindful morning routine mendorong permintaan produk-produk wellness.
Data TikTok menunjukkan kategori seperti home organization, aksesori kesehatan, dan alat tulis afirmatif menjadi best-seller di TikTok Shop. Platform Shopify juga mencatat bahwa self-improvement dan personal care termasuk niche paling menguntungkan di 2025.
Feed yang penuh warna pastel, suasana cozy, dan pesan penuh harapan ini sering kali disertai link belanja, mulai dari planner, lilin aromaterapi, hingga matcha kit yang digunakan kreator.
Koneksi, Bukan Perbandingan
Berbeda dari era influencer yang identik dengan kesempurnaan, daya tarik HopeTok justru terletak pada kejujuran. Video yang diunggah jarang terlihat 'sempurna', justru menampilkan cerita burnout, proses pemulihan, atau sekadar bertahan menjalani minggu.
Menurut Headland Consultancy, estetika seperti #HopeCore dan #SoftLife berkembang karena menawarkan ruang yang lembut secara visual dan aman secara emosional, sebagai penyeimbang dari konten negatif di internet. Psikolog Julie Smith merangkum fenomena ini sebagai sesuatu yang lebih realistis.
"Orang-orang tidak lagi mengejar kesempurnaan, mereka mengejar ketenangan," ungkap Julie Smith.
Di saat algoritma sering mengangkat kemarahan dan kontroversi, sudut kecil di internet ini justru membuktikan bahwa harapan juga bisa menular. Bagi generasi yang berusaha menyeimbangkan realitas dan optimisme, HopeTok mungkin adalah jenis konten yang selama ini mereka butuhkan.
(kik/kik)











































