Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Most Pop: Bayi Pertama Lahir Setelah 17 Tahun, Satu Desa Ikut Rayakan

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Sabtu, 04 Apr 2026 18:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Kelahiran Bayi Pertama di Desa Eunha setelah 17 tahun.
Foto: Dok. Koreatimes
Jakarta -

Selama hampir dua dekade, tak ada tangisan bayi yang terdengar di Eunha, sebuah wilayah kecil di distrik Hongseong, Korea Selatan. Hingga akhirnya, suatu hari pada Maret 2026, terjadi momen yang mengubah segalanya.

Tangis pertama seorang bayi laki-laki bernama Yong-jun memecah keheningan yang telah berlangsung selama 17 tahun. Bagi warga setempat, momen itu terasa lebih dari sekadar kelahiran.

Jalanan desa yang biasanya lengang mendadak dipenuhi spanduk ucapan selamat. Penduduk Eunha menyambut Yong-jun sebagai 'warga spesial', simbol harapan baru bagi komunitas yang lama diliputi kekhawatiran akan masa depan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Kelahiran Bayi Pertama di Desa Eunha setelah 17 tahun.Kelahiran Bayi Pertama di Desa Eunha setelah 17 tahun. Foto: Dok. Koreatimes

Salah satu spanduk yang terpasang berbunyi, "Hadiah bermakna hadir untuk kami di tahun 2026. Selamat atas kelahiran bayi Yong-jun."

Seperti dilansir dari Vn Express, Yong-jun merupakan putra dari pasangan Jeong Hae-deok dan Syardani, perempuan keturunan Kamboja yang kini menetap di desa tersebut. Kehadirannya tak hanya disambut sebagai anggota keluarga baru, tetapi juga titik terang bagi komunitas yang perlahan menyusut.

Dalam satu dekade terakhir, populasi Eunha turun dari lebih dari 2.600 menjadi di bawah 2.000 jiwa. Sebagian besar penduduknya adalah lansia, sementara angka kelahiran nyaris tak ada.

Suara tangisan bayi pun seperti sesuatu yang lama dirindukan. Kebahagiaan warga semakin terasa ketika pada bulan yang sama, satu-satunya sekolah dasar di desa tersebut menerima empat siswa baru di kelas satu-sebuah angka kecil, namun berarti besar bagi keberlangsungan komunitas.

Kepala pemerintahan setempat, Shim Seon-ja, menyebut kelahiran Yong-jun sebagai kebahagiaan terbesar yang dirasakan wilayah itu dalam bertahun-tahun.

Kelahiran Bayi Pertama di Desa Eunha setelah 17 tahun.Kelahiran Bayi Pertama di Desa Eunha setelah 17 tahun. Foto: Dok. Koreatimes

"Kami berkomitmen memberikan dukungan administratif dan kesejahteraan semaksimal mungkin, agar tempat ini tidak hanya menjadi desa yang damai, tetapi juga lingkungan terbaik untuk membesarkan anak," ujarnya.

Kelahiran bayi pertama setelah 17 tahun di Eunha menjadi potret kecil dari persoalan yang lebih besar di Korea Selatan. Negara tersebut tengah menghadapi krisis demografi serius, dengan angka kelahiran yang terus menurun.

Pada 2023, tingkat kelahiran Korea Selatan tercatat hanya 0,72-terendah di dunia dan jauh di bawah angka ideal 2,1 untuk menjaga populasi tetap stabil. Sementara itu, jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas kini mencapai lebih dari 21% dari total populasi, menempatkan negara ini dalam kategori 'super-aged society'.

Berbagai kebijakan telah digulirkan pemerintah, mulai dari bantuan finansial, fasilitas penitipan anak gratis, hingga kemudahan akses hunian bagi pasangan muda. Semuanya demi mendorong angka kelahiran.

(hst/rcp)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads