Fenomena Penyihir Modern Viral di TikTok, Ini Fakta di Baliknya
Fenomena penyihir modern kembali mencuri perhatian publik, terutama di media sosial seperti TikTok. Berbeda dari gambaran klasik dalam dongeng, para penyihir masa kini tampil dengan pendekatan yang lebih modern, mengajarkan ritual, manifestasi, hingga praktik energi kepada ribuan pengikutnya.
Salah satu komunitas yang menjadi sorotan adalah Coven of Gaia di Coventry, Inggris. Kelompok ini aktif membagikan konten seputar praktik sihir yang mereka klaim berfokus pada pemberdayaan diri, bukan manipulasi.
Salah satu anggotanya, Julie Aspinall (60), telah mempraktikkan sihir sejak remaja. Ia mengungkapkan bahwa di masa lalu, mengaku sebagai penyihir bukan hal yang mudah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orang bisa kehilangan anak, pekerjaan, segalanya. Kamu harus merahasiakannya, atau siap menanggung risikonya," ujarnya, seperti dikutip dari Daily Star.
Kini, kondisi tersebut berubah. Julie dan komunitasnya justru terbuka di ruang publik dan memanfaatkan media sosial untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Mereka juga menegaskan batasan dalam praktik yang mereka lakukan, bukan berbau 'santet' atau 'guna-guna'
Julie Aspinall Foto: dok. Instagram @ @coventry_witch |
"Saya tidak di sini untuk membuat mantra bagi perempuan yang ingin tidur dengan selebriti,. Kalau ada yang minta untuk mendapatkan Brad Pitt, saya suruh mereka pergi dan memperbaiki diri dulu," kata Julie.
Menurut Julie, praktik sihir tidak bisa dilakukan sembarangan. Ia menjelaskan bahwa mantra hanya bekerja jika memiliki fokus yang jelas, dan bisa berbalik arah jika niatnya tidak tepat.
Ia mencontohkan kasus seorang pria yang meminta bantuan karena istrinya berselingkuh. Setelah dilakukan ritual, hubungan tersebut memang berakhir, namun tak lama kemudian sang istri kembali menjalin hubungan dengan pria lain.
Julie juga menolak anggapan bahwa hanya orang tertentu yang bisa menjadi penyihir. Menurutnya, praktik tersebut sebagai bentuk energi yang difokuskan atau manifestasi dengan intensitas lebih kuat.
"Ini keterampilan seperti yang lain. Bisa dipelajari, bisa dilatih. Siapa pun bisa jadi penyihir," ujarnya.
Fenomena ini juga memunculkan perdebatan di kalangan pengguna media sosial. Sebagian melihatnya sebagai bentuk pengembangan diri dan penguatan mental, sementara yang lain menganggapnya bertentangan dengan nilai agama.
(kik/kik)










































