Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Putri Eugenie Mundur dari Yayasan Anti-Perbudakan, Publik Soroti Kasus Ayahnya

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Senin, 09 Mar 2026 16:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Pangeran Andrew dan kedua putrinya, Putri Beatrice & Putri Eugenie
Foto: UK Press via Getty Images/Mark Cuthbert
Jakarta -

Putri Eugenie mundur dari posisinya di sebuah organisasi amal yang berfokus pada isu anti-perbudakan modern. Keputusan ini muncul di tengah sorotan publik terhadap ayahnya, Andrew Mountbatten-Windsor, yang terseret dalam dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein.

Menurut laporan dari The Observer, wanita 35 tahun yang merupakan anak dari mantan Duke of York dan Sarah Ferguson itu tidak lagi menjabat sebagai patron di organisasi amal Inggris Anti-Slavery International-organisasi hak asasi manusia tertua di dunia.

Profil Putri Eugenie juga telah dihapus dari situs resmi organisasi tersebut. Sebelumnya, Eugenie diketahui berperan aktif bekerja bersama berbagai pemimpin dan organisasi dalam upaya memerangi perbudakan modern. Dalam pernyataan resminya, Anti-Slavery International menyampaikan apresiasi atas kontribusi sang putri selama bertahun-tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setelah tujuh tahun, patronase dari HRH Princess Eugenie of York telah berakhir. Kami sangat berterima kasih atas dukungannya terhadap Anti-Slavery International. Kami berharap sang putri tetap melanjutkan upayanya untuk mengakhiri perbudakan dan menghadirkan kebebasan bagi semua orang," bunyi pernyataan organisasi tersebut, seperti dilansir HELLO Magazine.

Memilih mundur dari kegiatan sosial, hingga kini tidak ada indikasi bahwa Putri Eugenie ataupun kakaknya, Putri Beatrice, terlibat dalam dokumen Epstein maupun kasus hukum yang menjerat ayah mereka. Andrew sendiri ditangkap pada 19 Februari atas dugaan pelanggaran dalam jabatan publik.

ADVERTISEMENT
Pangeran Andrew dan kedua putrinya, Putri Beatrice & Putri EugeniePangeran Andrew dan Putri Eugenie. Foto: UK Press via Getty Images/Mark Cuthbert

Putri Eugenie Vokal Melawan Perbudakan Modern

Putri Eugenie pertama kali diumumkan sebagai patron Anti-Slavery International pada Hari Anti-Perbudakan, 18 Oktober 2019. Organisasi tersebut didirikan pada 1839 oleh Thomas Clarkson, salah satu tokoh awal gerakan abolisionis di Inggris.

Anti-Slavery International bekerja bersama para penyintas, organisasi mitra, pemerintah, dan pelaku bisnis untuk memerangi berbagai bentuk perbudakan modern-mulai dari perdagangan manusia, perbudakan anak, hingga kerja paksa. Selama bertahun-tahun, Eugenie dikenal aktif menyuarakan isu tersebut.

Pada 2017, dia ikut mendirikan The Anti-Slavery Collective, sebuah inisiatif yang fokus pada upaya mengatasi kerja paksa dalam rantai pasok bisnis global. Proyek tersebut bermula setelah Eugenie bersama sahabatnya sekaligus rekan pendiri, Julia de Boinville, melakukan perjalanan ke Kolkata, India.

Di sana mereka bertemu dengan mendiang aktivis sosial Aloka Mitra, yang menjalankan berbagai program dukungan bagi perempuan dan anak-anak rentan. Setelah kunjungan itu, keduanya memperdalam pemahaman tentang eksploitasi tenaga kerja dan perbudakan modern, termasuk di Inggris.

Mereka juga bertemu dengan pembuat kebijakan, aparat penegak hukum, akademisi, organisasi non-pemerintah, pekerja sosial, hingga para penyintas untuk meningkatkan kesadaran publik tentang isu tersebut. Lalu lima tahun kemudian, proyek tersebut resmi menjadi badan amal independen.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads