Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

'Rest in Peace', Meditasi Dalam Peti Mati Jadi Tren Mental Health di Jepang

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Rabu, 04 Mar 2026 11:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Meditasi di dalam peti mati jadi tren anak muda Jepang.
Meditasi di dalam peti mati jadi tren anak muda Jepang. Foto: Dok. Grave Tokyo
Jakarta -

'Rest in peace' biasanya kita dengar dalam konteks perpisahan terakhir. Namun di Jepang, frasa itu dimaknai secara harfiah; benar-benar beristirahat dalam damai-di dalam peti mati, tapi masih hidup.

Apa yang awalnya hanya layanan unik dari sebuah rumah duka di Prefektur Chiba, kini berkembang menjadi tren di kalangan pencari ketenangan. Praktik yang dikenal sebagai 'coffin-lying' ini mengajak orang berbaring dan bermeditasi di dalam peti mati untuk merenungkan kehidupan, menghadapi rasa takut akan kematian, atau sekadar mengisi ulang energi mental.

Konsep ini berakar pada budaya Jepang yang telah lama mengenal istilah kuyō, atau upacara peringatan, sebagai bagian dari refleksi hidup dan mati. Dalam filosofi tersebut, menyadari kefanaan justru dianggap cara untuk lebih menghargai kehidupan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tradisi tersebut mencerminkan bagaimana masyarakat Jepang menerima rapuhnya kehidupan sekaligus memandang kematian sebagai bagian alami dari perjalanan manusia. Kini di zaman modern, budaya lama tersebut digandrungi oleh generasi muda.

Tren coffin-lying muncul di tengah meningkatnya angka bunuh diri di kalangan anak muda Jepang. Kondisi ini mendorong berbagai pihak mencari pendekatan kreatif untuk meningkatkan kesadaran kesehatan mental.

ADVERTISEMENT

Sejumlah bisnis yang menawarkan layanan meditasi di dalam peti mati mengklaim praktik ini membantu orang yang ingin menyendiri untuk menenangkan pikiran dan meredakan kecemasan. Tren ini bahkan berkembang hingga menyediakan berbagai pilihan peti mati sesuai kepribadian pelanggan.

Meditasi di dalam peti mati jadi tren anak muda Jepang.Meditasi di dalam peti mati jadi tren anak muda Jepang. Foto: Dok. Grave Tokyo

Jika peti kayu polos terasa terlalu suram, sebuah spa baru di Tokyo bernama Meiso Kukan Kanoke-in menawarkan 'peti mati fancy' dengan desain penuh warna. Dirancang oleh perusahaan Grave Tokyo, peti mati dekoratif ini diciptakan untuk menghadirkan pengalaman meditasi.

"Berada di peti mati ini, Anda dapat memandang hidup melalui kesadaran akan kematian," tulis Grave Tokyo, seperti dilansir New York Post.

Pelanggan bisa menyesuaikan sesi selama 30 menit (dengan biaya sekitar US$13 atau Rp 219 ribuan) sesuai preferensi. Selain memilih peti terbuka atau tertutup, tersedia opsi musik relaksasi, proyeksi video di langit-langit, atau suasana hening total.

Desainer Grave Tokyo sekaligus pembuat peti mati, Mikako Fuse, mengatakan pendekatannya bertujuan membantu orang melihat bahwa 'kematian itu cerah dan tidak seseram yang dibayangkan.'

Namun, tujuan utamanya bukan sekadar mengubah persepsi tentang kematian, melainkan mengingatkan bahwa hidup layak untuk dijalani.

Pada 2024, Mikako menggelar lokakarya di sebuah universitas di Kyoto, mengajak mahasiswa merasakan pengalaman berada di dalam peti mati untuk mengubah cara pandang mereka tentang kematian dan menumbuhkan keinginan untuk hidup. Beberapa mahasiswa yang mencoba pengalaman tersebut mengatakan bahwa simulasi itu menjadi kesempatan untuk merefleksikan diri dan mengatur ulang kekhawatiran, serta membuat "ketakutan akan kematian menghilang dan memunculkan keinginan hidup yang lebih kuat.

Meditasi di dalam Peti Mati, Benarkah Efektif untuk Kesehatan Mental?

Meditasi di dalam peti mati jadi tren anak muda Jepang.Meditasi di dalam peti mati jadi tren anak muda Jepang. Foto: Dok. Grave Tokyo

Meditasi, mindfulness, dan terapi perilaku kognitif memang sudah lama digunakan untuk membantu kesehatan mental. Obat-obatan juga kerap digunakan untuk mengelola pikiran bunuh diri dalam jangka panjang, sementara ketamin dan esketamin mulai dipertimbangkan sebagai opsi dalam kondisi krisis akut, selain perawatan di rumah sakit.

Namun, para pendukung coffin-lying berpendapat bahwa 'melatih' atau mensimulasikan kematian secara langsung dapat memberikan dampak mendalam terhadap kondisi mental seseorang.

"Saya telah melihat banyak orang yang mengikuti pengalaman peti mati di Grave Tokyo mengalami pengurangan atau bahkan hilangnya pikiran tentang kematian," kata Mikako dalam pernyataan resminya.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads