Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Pengalaman Mengerikan Korban Epstein, Alami Pelecehan Seksual di Usia 14

Tim Wolipop - wolipop
Rabu, 18 Feb 2026 09:41 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Marina Lacerda, korban Epstein
Marina Lacerda, korban Epstein Foto: dok. ABC News
Jakarta -

Seorang korban predator seks Jeffrey Epstein akhirnya buka suara tentang pengalaman kelam yang menghantuinya sejak remaja. Marina Lacerda baru berusia 14 tahun ketika pertama kali diperkosa oleh miliarder tersebut, Ini menjadi awal dari empat tahun eksploitasi yang mengubah hidupnya selamanya.

Kini berusia 37 tahun, wanita asal Brasil itu menjadi salah satu korban yang paling vokal mengungkap kejahatan Epstein, yang ditemukan tewas di sel penjara sebelum kasusnya sempat disidangkan. Marina mengaku hidupnya hancur setelah bertemu pria yang kala itu dipuja sebagai sosok berpengaruh di New York itu.

Kisahnya bermula saat keluarganya berada di titik terendah. Ayah tirinya dipenjara atas kasus pelecehan terhadap anak-anak, sementara hubungannya dengan sang ibu merenggang. Di tengah kondisi rapuh itu, seorang gadis yang lebih dulu bekerja untuk Epstein mendekatinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Gadis muda ini mendatangi saya dan berkata: 'Hei, aku tahu apa yang kamu alami, ikut aku. Aku kenal pria yang sangat kuat, luar biasa, dan sangat keren. Dia orang yang sangat penting di New York, dan dia orang baik untuk dikenal,'" kenang Marina.

EpsteinJeffrey Epstein Foto: Dok. US Department of Justice

Tawaran itu terdengar seperti jalan keluar. Marina saat itu bekerja di tiga tempat berbeda sambil tetap bersekolah demi membantu keluarganya. Ia punya mimpi menjadi penari balet atau tampil di Broadway. Epstein menjanjikan bayaran US$ 300 (sekitar Rp 4,5 juta) untuk sesi pijat 30 menit.

ADVERTISEMENT

Namun kenyataannya jauh dari sekadar pijat.
Sebelum pertemuan pertama, Marina diberi tahu bahwa ia harus melepas pakaian dan hanya mengenakan bikini. Ia mengira itu bagian dari prosedur biasa. Tetapi setibanya di mansion Epstein di New York, situasinya berubah. Ia diminta melepas bra dan ditanya apakah boleh disentuh. Marina langsung menolak.

Meski tak ada kekerasan fisik, tekanan situasi membuatnya merasa tak punya pilihan. Ia akhirnya melepas bra di ruangan yang sama, sementara Epstein melakukan tindakan tak senonoh. Ironisnya, gadis yang membawanya justru memarahinya karena dianggap tidak menuruti keinginan Epstein.

Marina mengatakan, Epstein kerap bersikap "sangat baik", seolah menghormati batasan bahwa ia belum siap berhubungan seks di usia 14 tahun.

"Dia seperti: 'Butuh waktu untuk membuatnya nyaman.' Saya pikir karena seluruh permainannya adalah dia suka ditantang. Dan ketika dia tahu dia akan ditantang, dan ada cara untuk mengatasinya, dia bersedia melakukannya," jelasnya.

Perlahan, situasi yang seharusnya terasa salah itu menjadi sesuatu yang 'dinormalisasi'. Marina bahkan dijadikan contoh untuk korban lain.

"Dia menggunakan saya seperti boneka, menyuruh saya bilang ke gadis-gadis lain: 'beginilah cara kamu melakukannya, beginilah cara kamu menggerakkan tubuhmu'. Dan dia akan berkata: 'Inilah yang dilakukan gadis baik'," tuturnya.

Tak hanya dieksploitasi, Marina juga diminta merekrut gadis-gadis remaja lain, khususnya yang masih memiliki kartu pelajar. Namun ketika ia bertambah usia, Epstein mulai menunjukkan ketidaktertarikan.

Marina akhirnya berhasil keluar dari lingkaran tersebut setelah memiliki pekerjaan tetap di kedai kopi dan penghasilan sendiri. Ia kemudian menjadi saksi kunci dalam dakwaan terhadap Epstein pada 2019. Kini, ia hanya ingin publik melihat para korban dari sudut pandang yang benar.

"Saya akan mengatakan, lihat kami sebagai anak-anak yang saat itu berusia 14 tahun, yang hanya ingin membantu keluarga, yang punya mimpi, dan yang kemudian hidupnya hancur karena bertemu monster itu," tutupny

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads