Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Zohran Mamdani Dikecam, Cari Jaket Custom saat Warga New York Tewas Kedinginan

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Kamis, 05 Feb 2026 07:03 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Wali Kota New York City Zohran Mamdani mengadakan konferensi pers di Kantor Manajemen Darurat Kota New York, saat badai musim dingin besar melanda sebagian besar wilayah Amerika Serikat, di Brooklyn, New York City, AS, 25 Januari 2026.
Wali Kota New York City Zohran Mamdani mengadakan konferensi pers di Kantor Manajemen Darurat Kota New York, saat badai musim dingin besar melanda sebagian besar wilayah Amerika Serikat, di Brooklyn, New York City. Foto: REUTERS/Bing Guan
Jakarta -

Wali Kota New York City ZohranMamdani menuai kritik tajam setelah dituding lebih sibuk memikirkan penampilan dibandingkan penanganan badai musim dingin ekstrem yang menewaskan sedikitnya 16 warga kota tersebut.

Kritik ini mencuat usai laporan menyebutkan bahwa Zohran ingin memastikan dirinya tampil dengan jaket yang tepat saat memberikan pengarahan kepada publik, di tengah badai musim dingin Fern yang melanda New York pada Januari lalu. Badai tersebut membawa salju setebal hampir 30 cm dan suhu ekstrem yang berujung pada kematian belasan orang akibat kedinginan.

Dalam laporannya, The New York Times mengungkap bahwa di saat pemerintah kota seharusnya fokus mengoordinasikan respons darurat, Zohran justru disebut sedang mencari mantel baru. Jaket itu diinginkan tampil sederhana dan tidak mencolok, namun tetap mampu membedakan dirinya saat berbicara di hadapan warga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut laporan tersebut, sejumlah pengamat menilai pria keturunan Asia Selatan ini kerap menempatkan pencitraan dan penampilan sebagai prioritas, bahkan di tengah situasi krisis.

Seorang tokoh Partai Demokrat yang enggan disebutkan namanya mengritik keras sikap sang wali kota.

ADVERTISEMENT

"Seandainya sebagian kecil energi yang dihabiskan untuk video pencitraan dan jaket itu dialihkan untuk mengurus kota, mungkin tidak akan ada warga yang meninggal karena kedinginan, jalanan tersumbat salju, dan tumpukan sampah di mana-mana," ujarnya, seperti dikutip dari New York Post.

Pria 34 tahun ini terlihat tampil di hadapan kamera mengenakan jaket Carhartt yang telah dikustomisasi saat konferensi pers pada 25 Januari lalu. Jaket yang sama juga dikenakannya saat sesi foto membersihkan salju di Brooklyn pada hari yang sama.

Jaket tersebut dibeli seharga US$159 atau sekitar Rp 2,6 juta dari toko Dave's New York di Manhattan, lalu dibawa ke Arena Embroidery di Brooklyn untuk dimodifikasi. Toko ini dikenal pernah mengerjakan pesanan khusus untuk sejumlah figur publik, termasuk musisi Bad Bunny.

Bagian dalam kerah jaket tersebut juga disulam dengan kalimat, "No problem too big. No task too small"-kutipan dari pidatoZohran usai kemenangannya dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat.

Penampilan Zohran dengan jaket tersebut kemudian viral dan mendapat sorotan dari berbagai media gaya hidup ternama seperti GQ, Harper's Bazaar, dan Complex. Namun, pujian itu berubah menjadi kecaman seiring meningkatnya jumlah korban tewas akibat cuaca ekstrem dan memburuknya kondisi kota.

Seorang pengguna media sosial X menulis, "Yang tidak saya sangka adalah belasan orang meninggal karena kepemimpinan Mamdani, jalanan tertutup salju, dan sampah menumpuk. Tapi setidaknya dia sudah punya jaket Carhartt custom untuk video pencitraannya."

Konsultan politik Ken Frydman menilai bahwa para wali kota sebelumnya memang memiliki jaket atau pakaian resmi sendiri, namun tidak sampai dibeli dari merek trendi dan dimodifikasi secara khusus.

"Pesan yang ingin disampaikan tetap sama, citra pemimpin yang dekat dengan rakyat pekerja. Bedanya, konteks saat ini sangat sensitif," ujarnya.

Frydman menambahkan, "Dia dan istrinya seharusnya lebih fokus pada warga New York yang kedinginan hingga meninggal, bukan pada urusan pakaian yang dipersonalisasi."

Sementara itu, Direktur Marist College Institute for Public Opinion Lee Miringoff, mengingatkan Zohran agar tidak terlalu menitikberatkan pada penampilan dibandingkan isu-isu krusial bagi warga.

"Masalah terbesarnya adalah kota ini masih berantakan," kata Lee.

DIa juga menyoroti bahwa krisis tunawisma dan kematian akibat cuaca ekstrem bisa menjadi catatan buruk bagi kepemimpinannya.

"Isu ini terasa semakin besar karena dia masih muda dan belum memiliki pengalaman memimpin setara para wali kota sebelumnya," pungkasnya.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads