Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Most Pop: Kisah Kelam Wanita Jadi Budak Seks ISIS, Disiksa-Tak Diberi Makan

Eny Kartikawati - wolipop
Minggu, 25 Jan 2026 15:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Sipan Khalil
Foto: Dok. Dok. Middle East Eye, Rudaw, Instagram @sepan.ajo
Jakarta -

Perempuan Yazidi bernama Sipan Khalil akhirnya angkat suara tentang masa lalu kelam yang pernah ia jalani. Ia membagikan kisah hidupnya yang penuh kekerasan setelah diculik oleh ISIS, dijadikan budak, dan mengalami berbagai bentuk penyiksaan. Pengakuannya menggambarkan penderitaan yang nyaris tak manusiawi.

Sipan berasal dari komunitas Kurdi kuno di Irak utara yang memeluk Yazidisme, sebuah agama minoritas yang kerap menjadi target ISIS. Tragedi menimpanya pada 2014, ketika kelompok teror itu menyerbu desa Kocho. Saat itu usianya masih 13 tahun. Ia ditangkap, digiring ke Raqqa di Suriah, lalu diperdagangkan sebagai budak.

Selama berada dalam cengkeraman ISIS, Sipan menyaksikan banyak gadis belia diperlakukan secara brutal. Ia sendiri berulang kali mengalami pemerkosaan, pemukulan, dan dibiarkan kelaparan. Penderitaannya berlanjut ketika ia dipindahkan ke rumah Abu Bakr al-Baghdadi dan dipaksa menjadi pembantu rumah tangga sekaligus mengasuh anak-anak pemimpin ISIS tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat diwawancara Rudaw pekan lalu, wanita yang kini berusia 26 tahun itu mengaku menyaksikan budak Yazidi lain dipilih satu per satu untuk diperkosa. Kekerasan itu akhirnya menimpanya. Ia diikat dan disiksa secara brutal selama berbulan-bulan.

Seperti dikutip dari Mail Online, pada 2017, Sipan dipaksa menikah dengan Abu Azam Lubnani, seorang militan ISIS asal Lebanon berusia 22 tahun. Pria itu sering menunjukkan video menembaki para tahanan sambil meneriakkan takbir.

ADVERTISEMENT

Setelah ISIS kalah, Lubnani mencoba memperdagangkan Sipan ke Lebanon, namun perjalanan itu berakhir ketika ranjau darat meledak. Meski terluka bersama bayi laki-lakinya yang berusia tiga bulan, Sipan berhasil merebut senjata dan menembak Lubnani serta penyelundup yang membawanya. "Jika aku tidak membunuh mereka, aku tidak akan pernah bebas," ujarnya.

Sebuah keluarga Badui menyelamatkannya dan menyembunyikannya selama dua tahun. Setelah memiliki ponsel, Sipan mencari keluarganya melalui media sosial. Ia akhirnya menemukan ibunya serta empat saudara laki-laki dan lima saudara perempuan yang masih hidup. Dengan bantuan keluarga Badui, Sipan kembali ke Irak dan resmi dibebaskan serta dipersatukan kembali dengan keluarganya pada 2021.

Kini Sipan tinggal di Berlin, belajar dan bekerja dengan Farida Organization, sebuah lembaga HAM yang didirikan oleh para penyintas Yazidi. Ia juga merawat adik-adiknya yang masih hidup. Sebagian besar keluarganya tewas dalam genosida. "Mereka membunuh ayahku, saudaraku, paman-pamanku, dan sepupuku," ujarnya.

(eny/vio)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads