Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Influencer Umumkan Kematiannya Sendiri, Pesan Terakhirnya Mengharukan

Kiki Oktaviani - wolipop
Kamis, 15 Jan 2026 10:06 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Sara Bennett
Sara Bennett Foto: dok. Instagram
Jakarta -

Influencer sekaligus advokat ALS, Sara Bennett, meninggal dunia di usia 39 tahun dengan cara yang sangat personal dan menyentuh. Ia mengumumkan kematiannya sendiri melalui media sosial.

Hampir tiga tahun setelah didiagnosis ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) pada Maret 2023, Sara membagikan unggahan terakhirnya di Instagram pada 13 Januari. Dalam unggahan tersebut, ia menyertakan kartu kenangan dan foto, disertai pesan yang ditulis dengan ketenangan.

"Saya tidak merasa kesakitan atau kelelahan. Saya masih bisa tertawa, berbicara, dan bergerak. Ketika merenungkan bulan-bulan terakhir hidup saya, saya bersyukur tidak pergi secara tiba-tiba, bahkan dengan segala penderitaan ini. Saya telah menyelesaikan daftar hidup saya," tulis Sara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ALS merupakan gngguan saraf progresif yang merusak sel saraf motorik di otak dan sumsum tulang belakang. Kondisi ini menyebabkan otot melemah secara bertahap hingga terjadi kelumpuhan, kesulitan bicara, makan, bahkan kesulitan bernapas,

Meski melewati kondisi yang berat, Sara mengaku tetap bersyukur dengan kehidupannya.

ADVERTISEMENT

"Bahkan jika Anda tidak percaya pada apa pun, saya sedang memberi makan bumi dan pohon saya. Saya mencintai hidup ini dan sangat bersyukur atas waktu yang saya miliki," tulisnya.
Sara awalnya dikenal lewat akun The Ananda Edit, yang ia bangun untuk membagikan konten seputar penataan gaya hidup, sebuah hobi yang kemudian berkembang menjadi pekerjaan sampingan. Setelah diagnosis ALS, ia mengganti nama platformnya menjadi The Ananda Pivot.

Melalui akun tersebut, Sara aktif menyuarakan kesadaran tentang ALS, sekaligus memperlihatkan bagaimana ia memilih untuk tetap menjalani hidup sepenuhnya bersama sang suami, Rusty, dan dua putra mereka, Lincoln (9) dan William (7).

"Ketika sebuah perubahan arah memang harus terjadi, bahkan dalam situasi paling menghancurkan sekalipun, perubahan itu tidak harus sepenuhnya buruk. Kita boleh dan perlu berduka atas apa yang tidak terjadi dan tidak akan pernah terjadi. Namun pada saat yang sama, saya harus memaksimalkan kartu buruk yang saya terima," tulis Sara di Instagram pada Mei 2024.

Menjelang akhir hidupnya, Sara dengan sadar mempersiapkan apa yang ia sebut sebagai "the after". Ia menggelar upacara akhir kehidupan, menuliskan tradisi untuk setiap hari raya, dan membagikannya kepada keluarga serta sahabat. Tujuannya sederhana namun mendalam, demi menjaga orang-orang terkasih tetap terhubung dan memberi dukungan ekstra bagi suaminya kelak.

Meski penyakit ini telah merenggut begitu banyak dari hidupnya, Sara mengaku bangga karena masih bisa menggunakan suaranya untuk membantu orang lain.

"Platform saya memberi saya kesempatan untuk terus menggunakan suara, terus mengajar, dan membantu sesama. Saya dengan sengaja mengubah duka yang tak terbayangkan menjadi sesi curah gagasan larut malam. Saya menggunakan akun ini untuk bertahan, mencipta, dan itu adalah bagian hidup saya yang layak dikenang," tulisnya dalam blog Her ALS Story pada 6 November.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads