Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Viral Pengakuan Aurelie Moeremans Jadi Korban Child Grooming, Apa Artinya?

Vina Oktiani - wolipop
Senin, 12 Jan 2026 17:03 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Aurelie Moeremans Terima Banyak Dukungan dan Curhat usai Keluarkan Buku soal Trauma Masa Remaja
Foto: Instagram @aurelie
Jakarta -

Perjalanan hidup artis Aurelie Moeremans belakangan ini menjadi sorotan publik. Lewat buku autobiografinya yang berjudul Broken Strings, Aurelie secara jujur mengungkap pengalaman pahit yang ia alami sejak usia sangat muda. Dalam buku tersebut, Aurelie mengaku pernah menjadi korban child grooming saat usianya baru 15 tahun. Ia menyebut pelaku sebagai seorang pria dewasa dengan nama samaran 'Bobby'.

Pengakuan ini pun viral dan memicu beragam komentar di media sosial. Banyak orang mulai bertanya-tanya, apa sebenarnya arti grooming? Mengapa kasus seperti ini sering kali sulit disadari, bahkan oleh korban dan orang-orang di sekitarnya?

Apa Itu Grooming?

Melansir Bravehearts, secara sederhana, grooming adalah tahap awal atau proses persiapan dalam kejahatan pelecehan seksual terhadap anak. Grooming dilakukan oleh pelaku untuk membangun kepercayaan, kedekatan emosional, dan kepatuhan dari anak atau remaja, serta orang-orang di sekitar mereka. Tujuannya adalah agar pelaku bisa melakukan kekerasan seksual dan menjaga agar korban tetap diam serta tidak berani mengungkapkan apa yang terjadi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Grooming tidak selalu terjadi secara langsung atau tatap muka. Proses ini bisa berlangsung secara kontak langsung maupun secara online, misalnya melalui media sosial, pesan pribadi, atau platform digital lainnya.

Grooming Sering Tersembunyi di Balik Sikap 'Baik'

Hal yang membuat grooming sangat berbahaya adalah karena perilakunya kerap terlihat seperti perhatian yang wajar atau kepedulian yang tulus. Bukan hanya anak yang menjadi target grooming, tetapi juga orang tua, pengasuh, bahkan lingkungan sekitar seperti guru atau organisasi.

ADVERTISEMENT

Pelaku sering tampil sebagai sosok yang ramah, disukai, sopan, dan dapat dipercaya. Mereka perlahan membangun hubungan emosional dengan anak dan orang dewasa di sekitarnya. Proses ini bisa berlangsung berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Namun, tujuan akhirnya tetap sama, yaitu mendapatkan akses tanpa pengawasan kepada anak dan mencegah korban untuk bercerita.

Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku grooming bukan orang asing. Banyak korban melaporkan bahwa pelaku adalah orang yang sudah dikenal, seperti kerabat, teman keluarga, tetangga, atau orang yang sering berada di sekitar anak.

Tanda-Tanda Grooming

Mendeteksi grooming memang tidak mudah karena banyak perilakunya menyerupai interaksi normal antara orang dewasa dan anak. Meski begitu, ada beberapa pola umum yang perlu diwaspadai, antara lain:

* Pelaku berusaha membangun hubungan 'khusus' dengan anak dan membuat anak merasa istimewa.
* Memberi hadiah, perhatian berlebihan, atau rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain.
* Berusaha mengisolasi anak dari keluarga atau teman.
* Membuat anak merasa bergantung secara emosional.
* Mengaburkan batasan yang sehat antara orang dewasa dan anak.

Red flag ini tidak selalu berarti grooming pasti terjadi, tetapi penting untuk menjadi sinyal kewaspadaan agar proses tersebut bisa dihentikan lebih awal.

Dampak Grooming Bagi Korban

Dampak grooming sangat mendalam. Korban dapat mengalami kebingungan, rasa takut, rasa bersalah, hingga menimbulkan masalah pada identitas diri. Dalam beberapa kasus, korban justru merasa memiliki ikatan emosional dengan pelaku dan ingin melindungi hubungan tersebut.

Anak yang mengalami grooming sering kali:
* Merasa memiliki hubungan spesial dengan pelaku
* Bingung dengan sifat hubungan yang dijalani
* Menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi
* Takut tidak dipercaya atau disalahkan jika bercerita
* Khawatir akan dipisahkan dari keluarga
* Percaya bahwa membuka rahasia akan menyakiti orang-orang yang mereka cintai

Perasaan yang saling bertentangan inilah yang membuat banyak korban memilih diam, bahkan ketika mereka ditanya secara langsung.

Upaya Melindungi Anak Dari Grooming

Melindungi anak dari grooming dan kekerasan seksual membutuhkan peran bersama. Orang tua, pengasuh, guru, dan lingkungan sekitar perlu memahami bagaimana pelaku memilih korban dan memanipulasi situasi.

Tidak ada cara instan untuk mencegah grooming. Namun, edukasi, komunikasi terbuka dengan anak, serta kewaspadaan terhadap perubahan perilaku anak adalah langkah penting dalam menciptakan perlindungan.

(vio/vio)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads