Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Brand Favorit Gen Z Gentle Monster Dituding Eksploitasi Kerja, Tak Bayar Lembur

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Minggu, 11 Jan 2026 19:03 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Brand Fashion Korea Selatan.
Brand Fashion Korea Selatan Tamburins. Foto: Dok. Tamburins, Gentle Monster
Jakarta -

Gentle Monster dan Tamburins populer sebagai dua brand asal Korea Selatan yang lekat dengan gaya hidup Gen Z. Mulai dari desain futuristik, kampanye visual yang artsy, hingga kolaborasi dengan bintang K-Pop papan atas seperti Jennie BLACKPINK dan Felix Stray Kids, keduanya sukses membangun citra sebagai label yang aspiratif.

Namun, di balik popularitas dan estetika kekinian, muncul tudingan sisi gelap yang terkuak ke publik. Menurut laporan Maeil Labor News, sejumlah desainer yang saat ini maupun sebelumnya bekerja di IICOMBINED-perusahaan induk Gentle Monster dan Tamburins-mengungkap pengalaman kerja yang dinilai eksploitatif.

Mereka menuding adanya jam kerja berlebihan, intensitas kerja tinggi, serta tidak adanya bayaran lembur. Media tersebut mewawancarai empat desainer yang masing-masing telah bekerja lebih dari satu tahun. Seluruh narasumber menggambarkan budaya kerja yang menuntut dedikasi total, hingga jam kerja panjang seolah menjadi hal yang tak terelakkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa desainer mengaku kerap bekerja lebih dari 70 jam per minggu, padahal kontrak kerja mereka mencantumkan jam kerja sekitar 47,5 jam per minggu. IICOMBINED disebut menerapkan sistem jam kerja fleksibel atau discretionary work-hour system, yang pada praktiknya membuat karyawan tidak mendapatkan upah lembur maupun cuti pengganti.

Namun menurut para desainer, fleksibilitas tersebut hanya ditulis di atas kertas. "Dalam praktiknya, kami tidak benar-benar punya kendali atas jam kerja," ujar salah satu desainer, seperti dilansir Kbizoom.

ADVERTISEMENT

Tenggat waktu yang ketat dan beban kerja tinggi membuat mereka tetap harus bekerja di luar jam normal. Salah satu narasumber bahkan menceritakan ada periode dua bulan di mana ia hampir lembur setiap hari. Dampaknya bukan hanya kelelahan fisik, tetapi juga kondisi kesehatan yang menurun.

Brand Fashion Korea Selatan.Brand Fashion Korea Selatan Gentle Monster. Foto: Dok. Tamburins, Gentle Monster

"Saya sering sakit sampai harus infus. Beban kerja yang diberikan terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian," katanya.

Desainer tersebut juga mengaku tetap bekerja sambil mengonsumsi obat anti-kecemasan, sebelum akhirnya didiagnosis mengalami gangguan kecemasan dan depresi.

Salah satu desainer lain menceritakan bahwa dia pernah terlibat dalam sebuah proyek bersama lima desainer lainnya. Mereka dituntut bekerja tanpa henti selama dua minggu untuk menghasilkan ratusan desain, hanya untuk diminta mengulang semuanya dari awal setelah pimpinan perusahaan kembali dari luar negeri.

"Setelah bekerja seperti itu, tidak ada kompensasi apa pun. Bahkan untuk meminta cuti pengganti pun terasa mustahil," ujarnya.

Namun IICOMBINED membantah klaim yang beredar. Perusahaan menyatakan bahwa sistem kerja yang diterapkan telah sesuai dengan pedoman Kementerian Tenaga Kerja Korea Selatan.

Mereka juga menegaskan bahwa tudingan beban kerja berlebihan serta tidak adanya bayaran lembur tidak benar, dan perusahaan tidak pernah mengeluarkan kebijakan yang menghilangkan diskresi karyawan. Sementara itu para desainer yang diwawancarai tetap bersikukuh. Menurut mereka, beban kerja yang diberikan terlalu besar untuk memungkinkan adanya fleksibilitas, sementara sistem kompensasi lembur dinilai tidak berjalan dengan baik dan adil.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads