Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Viral! Pilu Pasutri Korban Banjir Aceh Jalan Kaki dan Lapar, Istri Pingsan

Gresnia Arela Febriani - wolipop
Kamis, 04 Des 2025 06:23 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Wanita Aceh Tamiang pingsan karena kelelahan dan lapar setelah berjalan belasan kilometer di tengah banjir. Suami menggendong sebelum dibantu tim relawan mengevakuasi. Unggahan terseut langsung viral.
Wanita Aceh Tamiang pingsan karena kelelahan dan lapar setelah berjalan belasan kilometer. Suami menggendong sebelum dibantu tim relawan mengevakuasi. Foto: Dok. Instagram @bayugawtama.
Aceh -

Pria ini mengunggah situasi pilu saat melihat perjuangan seorang suami menggendong istrinya yang pingsan di tengah genangan air banjir yang gelap. Momen menyentuh sekaligus memprihatinkan ini direkam di Aceh Tamiang, daerah yang terdampak parah akibat bencana alam tersebut.

Video tersebut menjadi viral usai diunggah oleh akun Instagram @bayugawtama. Dalam unggahannya dia memperlihatkan sisi kemanusiaan di tengah kesulitan.

"Warga Aceh Tamiang pingsan kelelahan dan lapar," tulis keterangan video Instagram @bayugawtama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut dijelaskan, wanita tersebut pingsan setelah menempuh perjalanan kaki sejauh belasan kilometer melawan arus air, tanpa sempat mengonsumsi makanan. Dalam kondisi gelap gulita sekitar pukul 21.30 WIB pada 1 Desember 2025, wanita yang merupakan penyintas banjir ini akhirnya ambruk karena kelelahan ekstrem dan kelaparan.

Melihat kondisi istrinya yang tak sadarkan diri, sang suami dengan sigap langsung menggendongnya di punggung. Tak lama berselang, tim relawan yang bertugas di lokasi segera merespons dan memberikan pertolongan.

Wanita yang pingsan itu kemudian dievakuasi menggunakan perahu karet menuju tempat yang lebih aman untuk mendapatkan penanganan medis dan bantuan logistik. Kisah ini menjadi gambaran nyata betapa beratnya dampak banjir bagi warga yang harus bertahan dan mengungsi.

Postingan tersebut sudah ditonton lebih dari 851 ribu kali dan mendapatkan banyak simpati dari warganet.

"Kok bisa mereka tutup mata,tidur dirumah yg hangat,maknan makanna yg enak yg masih panas,sdngkan mereka ini😢," ucap pengguna akun @diilll27.

"😭, Ya Allah, beri mereka semua kekuatan, kesabaran, semoga Allah SWT mengganti lelah mereka dengan rezeki yang berlimpah, kebahagiaan, pahala, berkah dan ridho mu buat mereka Ya Allah," ujar akun @noerayni090580.

"Astaghfirullahal'adzim, ya Allah lindungilah mereka selamatkanlah mereka cukupkanlah kebutuhan mereka kuatkanlah mereka, tetap hati2 untuk semua, semoga bencana segera reda aamiin," timpal akun @pangrasawise.

Konfirmasi Wolipop

Peristiwa pilu tersebut disaksikan langsung oleh pengunggah video, Bayu Gawtama, yang merupakan seorang relawan. Dalam wawancaranya kepada Wolipop, Bayu (50 tahun) yang berasal dari Jakarta namun tinggal di Depok, memaparkan kronologi perjalanannya menembus lokasi bencana di Aceh.

Sejak tanggal 26, ia sudah berada di Medan untuk memberikan bantuan makanan. Usahanya masuk ke Aceh Tamiang pada 28 November sempat terkendala akses. Barulah pada 1 Desember 2025, Bayu dan timnya berhasil masuk.

"Tanggal 1 Desember mencoba lagi dan berhasil masuk Aceh Tamiang mulai jam 6 sore sampai tengah malam (jam 00.30) masuk sampe daerah Seumadam," ujar Bayu Gawtama lewat WhatsApp (3/12/2025).

Kondisi jalur yang terputus membuat perjalanan evakuasi menjadi sangat sulit. Bayu menjelaskan bahwa jalanan sudah dipenuhi truk yang tertahan sejauh 2 kilometer sebelum perbatasan Sumatera Utara-Aceh.

"Sampai di Perbatasan suasana ramai oleh para supir truk, 500 m-1 km setelah perbatasan sudah nampak banjirnya sampai kedalaman 50-70 cm, dari situ kami mulai turunkan perahu, lalu ketemu jalan kering lagi sekitar hampir 1 km, setelah itu ada titik banjir lagi, disitu ada bis, truk yg terendam, kedalaman air lebih tinggi, hampir kurang lebih 80 cm-90 cm, ternyata di situ banyak masyarakat yang berusaha nyeberang mau ke arah Medan atau sebaliknya karena itu kita bantu evakuasi dengan perahu. Ada perempuan dan balita," tuturnya.

Setelah mendayung beberapa ratus meter, tim Bayu bertemu dengan penyintas yang kondisi fisiknya sangat memprihatinkan. Mereka adalah warga yang berjalan kaki puluhan kilometer dalam kondisi kelaparan dan kelelahan.

"Mereka kelaparan dan kelelahan, empat hari nggak makan nasi, selama sepekan mereka cuma makan tiga kali itupun hanya mie instan," lanjut Bayu.

Di tengah perjuangan tersebutlah, tim relawan ini bertemu dengan pasangan suami istri yang viral. "Kami juga ketemu suami isteri yang sudah belasan kilometer jalan kaki, sempat kami bantu naik perahu melintasi banjir dan setelah sampai ke tempat yang agak surut mereka jalan kaki, dan setelah itu lah kejadian si istri pingsan," lanjutnya lagi.

Bayu memastikan, wanita yang pingsan tersebut segera mendapatkan penanganan. Saat ini Bayu dan tim Sekolah Relawan terus berupaya menembus titik bencana.

"Saat ini posisi saya di Medan, lagi belanja logistik untuk Aceh Tamiang. Kalau di Tamiang nyaris belum ada bantuan masuk, semua hal dibutuhkan, makanan, air bersih, pasokan listrik, internet, kebutuhan bayi dan balita, tim medis dan obat-obatan dan lainnya," pungkas Bayu.

(gaf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads