ADVERTISEMENT

Anak Korea Bikin Ortu Cemas, Tiru Tragedi Itaewon Jadi Game Desak-desakan

R Chairini Putong - wolipop Kamis, 17 Nov 2022 15:00 WIB
Tragedi Halloween di Itaewon: Kronologi, Penyebab dan Jumlah Korban Tragedi Itaewon. Foto: REUTERS/YONHAP
Jakarta -

Tragedi Itaewon meninggalkan trauma bagi warga Korea Selatan. Pesta perayaan Halloween yang digelar di Itaewon berubah menjadi malapetaka setelah lebih dari 100 ribu orang berdesakan di gang kecil. Terhitung 156 orang dinyatakan meninggal.

Kini sejumlah anak sekolah di Korea Selatan membuat orang tua cemas dengan viralnya tren Itaewon Game. Permainan itu menirukan tragedi Itaewon, di mana pemainnya berdesak-desakan dan saling menindih.

Dilansir dari allkpop dan Nate, permainan itu sebelumnya dikenal dengan nama Hamburger Game di Korea Selatan. Dan pasca tragedi Itaewon, banyak anak sekolah yang merundung temannya dengan menindih badan targetnya hingga terbentuk tumpukan seperti membuat hamburger.

Kini Itaewon Game dimainkan saat jam istirahat oleh segelintir siswa SD, SMP, dan SMA hingga viral di TikTok Korea Selatan.

Menurut seorang siswa kelas 1 SMP di Seoul, Im Mo Gun, Itaewon Game tercipta karena teman-temannya menirukan video yang beredar di media sosial setelah tragedi itu.

Apa yang terjadi di Itaewon? Dunia dihebohkan dengan tragedi maut yang terjadi di pusat kota Seoul, Korea Selatan. Insiden itu menewaskan ratusan orang.Tragedi Itaewon Foto: REUTERS/YONHAP

"Video tragedi itu menyebar lewat media sosial, jadi permainan Hamburger Game kini dimainkan untuk meniru tragedi Itaewon."

Seorang siswa SMA, Park Mo kemudian menjelaskan bagaimana permainan itu dilakukan di dalam kelas. "Teman-teman memindahkan semua meja dan kursi ke samping kelas dan mereka memainkan permainan itu dengan menindih satu anak, dengan 10 anak berada di atasnya. Permainan ini dilakukan setiap jam istirahat."

"Ketika jam makan siang, teman-teman berteriak 'Dorong, dorong' dan meniru tragedi Itaewon," sambungnya.

Itaewon Game Bikin Ortu Cemas

Dengan viralnya tren Itaewon Game, terdapat kekhawatiran bahwa permainan itu dapat menelan korban jiwa. Pasalnya pada 2011 silam, seorang siswa SMP di Korea Selatan tewas menjadi korban perundungan karena permainan tindih-menindih tersebut.

Seorang ayah pun terkejut setelah mendengar putranya mengatakan 'Trick or Die' alih-alih 'Trick or Treat' sebagai lelucon.

Pesta Halloween di sebuah gang di Itaewon, Seoul berakhir petaka. Sebanyak 151 orang dilaporkan meninggal dunia akibat berdesakan dan terinjak-injak.Tragedi Itaewon Foto: REUTERS/YONHAP

"Aku mendengar putraku mengatakan 'Trick or Die' sebagai lelucon dan aku khawatir anak-anak tidak peka dengan tragedi Itaewon," ujar Tuan Lee, ayah dari siswa kelas 5 SD.

Kantor Pendidikan Metropolitan Seoul kini mengumumkan akan memberikan pedoman kepada SD, SMP, dan SMA di Seoul soal penanganan Itaewon Game untuk mencegah insiden yang tidak diinginkan.

Kementerian Pendidikan Korea Selatan juga membagikan materi 'Tujuh Standar Pendidikan Keamanan Sekolah'. Salah satunya mencakup pedoman soal penggunaan media sosial bagi anak sekolah.

Sementara Lim Myung Ho, profesor psikoterapi Universitas Dankook khawatir permainan Itaewon Game menyebar semakin luas karena anak-anak berpikir mereka berbeda dari korban tragedi Itaewon.

"Efek sampingnya. Ada kekhawatiran bahwa permainan ini akan menyebar lebih luas karena stigma mereka yang berpikir mereka berbeda dari korban bahkan lebih dari mereka sehingga berpikir tidak apa-apa untuk menirunya," jelasnya.



Simak Video "Menolak Nyanyi, Penyanyi Trot Korea Ini Diserang Penggemar"
[Gambas:Video 20detik]
(rcp/rcp)
Adu Perspektif
×
Geger Capres Rambut Putih Keriput
Geger Capres Rambut Putih Keriput Selengkapnya