ADVERTISEMENT

Kisah Wanita Menghilang Setelah Viral Kasus KDRT, Kini Ditemukan di RSJ

Rahmi Anjani - wolipop Minggu, 19 Des 2021 21:00 WIB
noof al maadeed Foto: Instagram @noof.almaadeed
Jakarta -

Seorang wanita bernama Noof al-Maadeed pernah viral karena permohonannya untuk pindah ke Inggris. Aktivis hak wanita itu meminta suaka setelah mengalami KDRT di negara asalnya Qatar. Beberapa waktu lalu ia mengaku mendapat ancaman dan hidupnya sedang dalam bahaya. Sejak saat itu, Noof tidak lagi diketahui keberadaannya. Kabar terbaru ia dilaporkan sedang berada di rumah sakit jiwa.

Noof pertama kali mendapat perhatian dunia ketika mengadukan kasus KDRT yang dialaminya dua tahun lalu. Ia mengaku mengalami kekerasan fisik dan mental oleh beberapa anggota keluarga. Karena sistem perwalian di Qatar, ia tidak bebas bergerak untuk keluar dari rumah. Wanita 23 tahun itu lalu menjadi aktivis hak wanita dan mendokumentasikan perjalanannya mencari suaka ke Inggris.

Setelah berhasil kabur ke Inggris, ia sering memberikan saran untuk permintaan suaka di media sosial. Tapi awal Oktober lalu Noof tiba-tiba menarik permintaan suaka karena pemerintah Qatar menjanjikan keselamatannya. Sayangnya sesaat setelah kembali, Noof langsung menulis di Twitter bahwa ia tetap belum selamat.

Pada Oktober lalu, Noof mengaku bahwa ia mendapat ancaman. Wanita itu mengabarkan kepada follower bahwa jika beberapa hari mendatang tak ada kabar darinya itu berarti ia telah diserahkan kepada keluarga tanpa persetujuan. Baru-baru ini kondisi terbaru Noof pun telah diketahui tapi sayangnya bukan berita baik.

Seorang keluarga mengatakan jika Noof masih hidup tapi terus dibius dan kondisinya dalam bahaya. Dilansir Daily Mail, ia sedang berada di sebuah rumah sakit jiwa di Qatar. "Kami telah berbicara dengan seseorang di dalam rumah sakit untuk kabar terbarunya, situasinya terdengar sangat mengerikan dan kami ingin dia kembali selamat secepatnya," kata sumber.

Menghilangnya Noof bukan hanya mengkhawatirkan teman dan keluarga tapi publik dunia dan aktivis wanita. Terlebih ia sebelumnya mengaku mendapat tiga kali ancaman pembunuhan. Kepada BBC Radio, Noof mengatakan ia mengalami kekerasan fisik dan emosional di tangan anggota keluarganya sendiri. Karena menginginkan kebebasan, ia berniat meminta suaka ke Inggris.

"Sudah lebih dari dua bulan sejak kami mendengar kabar darinya. Kami dan teman-temannya tidak bisa menghubunginya. Menolak atau mencegat akses seseorang ke dunia luar akan menahannya tanpa komunikasi. Kami telah meminta untuk mendengar langsung keinginannya," kata peneliti hak wanita Rothna Begum yang mengaku sudah meminta pemerintahan Qatar untuk mendukung Noof.

(ami/ami)