5 Puisi Kemerdekaan untuk Menyambut HUT Ke-76 RI

Anggi Mayasari - wolipop Senin, 16 Agu 2021 11:46 WIB
Ilustrasi puisi kemerdekaan Inspirasi puisi kemerdekaan. Foto: Agung Mardika
Jakarta -

Memeriahkan HUT ke-76 RI, berikut kumpulan puisi kemerdekaan yang bisa jadi pilihan untuk dibaca atau menjadi renungan. Puisi-puisi ini bisa membuat kamu semakin cinta pada Tanah Air dan menghargai jiwa para pahlawan.

Puisi bertema hari kemerdekaan ini datang dari tokoh seperti, Sapardi Djoko Damono, W.S. Rendra dan Taufik Ismail. Puisi berjudul Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini dari Taufik Islamil termasuk salah satu puisi yang mengguggah jiwa nasionalisme karena mengungkap bagaimana para pahlawan jangan pantang menyerah demi mendapatkan kemerdekaan RI.

Berikut kumpulan puisi kemerdekaan:

Puisi tentang Hari Kemerdekaan 1


Pahlawanku, Inilah Janjiku

Karya : NN


Aku tak pernah tahu siapakah dirimu

Apakah pekerjaanmu kala itu

Yang aku tahu sejarah telah menaburi dirimu dengan bunga-bunga yang mengharumkan namamu

Pahlawanku,

Perjuanganmu dalam memperjuangkan kemerdekaan

Mempertahankan harga diri bangsa

yang bertahun-tahun lamanya diinjak-injak bangsa kolonialis

Telah menggugah semangat di dalam dadaku

Menghadirkan rasa nasionalisme yang sama dengan yang engkau miliki kala itu

Kini, kuberjanji akan meneruskan perjuanganmu, pahlawanku

Berpikir demi kemajuan bangsa

Melangkah demi terwujudnya Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

Berkarya demi kemanusiaan

Bertindak demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Itulah janjiku, wahai pahlawanku


Puisi tentang Hari Kemerdekaan 2


Aku Tulis Pamplet Ini

Karya : W.S Rendra


Aku tulis pamplet ini

Karena lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah

Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,

dan ungkapan diri ditekan menjadi peng -iya - an

Apa yang terpegang hari ini bisa luput besok pagi

Ketidakpastian merajalela

Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki menjadi marabahaya menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,

Maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam

Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan

Tidak mengandung perdebatan

Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan


Aku tulis pamplet ini

karena pamplet bukan tabu bagi penyair

Aku inginkan merpati pos

Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku

Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian

Aku tidak melihat alasan kenapa harus diam tertekan dan termangu

Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar

Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?

Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan

Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api

Rembulan memberi mimpi pada dendam

Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah yang teronggok bagai sampah

Kegamangan

Kecurigaan

Ketakutan

Kelesuan


Aku tulis pamplet ini

Karena kawan dan lawan adalah saudara

Di dalam alam masih ada cahaya

Matahari yang tenggelam diganti rembulan

Lalu besok pagi pasti terbit kembali

Dan di dalam air lumpur kehidupan,

aku melihat bagai terkaca :

ternyata kita, toh, manusia !

Ilustrasi puisi kemerdekaanIlustrasi puisi kemerdekaan Foto: Dok. Canva/Detikcom


Puisi tentang Hari Kemerdekaan 3

Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini

Karya: Taufik Ismail


Tidak ada pilihan lain

Kita harus berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

"Duli Tuanku ?"


Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus berjalan terus


Puisi tentang Hari Kemerdekaan 4


Menatap Merah Putih

Karya: Sapardi Djoko Damono


Menatap merah putih

Melambai dan menari-nari di angkasa

Kibarannya telah banyak menelan korban

nyawa dan harta benda

Berkibarnya merah putih

Yang menjulang tinggi di angkasa

Selalu teriring senandung lagu Indonesia Raya

Dan tetesan air mata


Dulu, ketika masa perjuangan pergerakan kemerdekaan

Untuk mengibarkan merah putih harus diawali dengan pertumpahan darah

Pejuang yang tak pernah merasa lelah

untuk berteriak : Merdeka!


Menatap merah putih

Adalah perlawanan melawan angkara murka

Membinasakan penindas dari negeri tercinta Indonesia

Menatap merah putih

Adalah bergolaknya darah demi membela kebenaran dan azasi manusia

Menumpas segala penjajahan di atas bumi pertiwi

Menatap merah putih

Adalah kebebasan yang musti dijaga dan dibela

Kinarannya di angkasa raya

Berkibarlah terus merah putihku dalam kemenangan dan kedamaian


Puisi tentang Hari Kemerdekaan 5


Sukmaku Merdeka

Karya: Wiji Thukul


Tidak tergantung kepada Departemen Tenaga Kerja

Semakin hari semakin nyata nasib di tanganku

Tidak diubah oleh siapapun

Tidak juga akan dirubah oleh Tuhan Pemilik Surga

Apakah ini menyakitkan? entahlah !

Aku tak menyumpahi rahim ibuku lagi

Sebab pasti malam tidak akan berubah menjadi pagi

Hanya dengan memaki-maki


Waktu yang diisi keluh akan berisi keluh

Waktu yang berkeringat karena kerja akan melahirkan

Serdadu-serdadu kebijaksanaan

Biar perang meletus kapan saja

Itu bukan apa-apa

Masalah nomer satu adalah hari ini

Jangan mati sebelum dimampus takdir


Sebelum malam mengucap selamat malam

Sebelum kubur mengucapkan selamat datang

Aku mengucap kepada hidup yang jelata

M E R D E K A ! !

Itulah lima puisi kemerdekaan yang bisa kamu baca dan resapi untuk membangkitkan jiwa nasionalisme di saat HUT ke-76 RI.



Simak Video "GISELLE aespa Minta Maaf Usai Tersandung Kontroversi Rasisme"
[Gambas:Video 20detik]
(eny/eny)