Wanita Ini Dapat Penghasilan Rp 284 Juta dari Jualan ASI Eksklusif

Hestianingsih - wolipop Minggu, 18 Okt 2020 10:00 WIB
Breast pump and bottle with milk in womans hand in blurred background Ilustrasi air susu ibu. Foto: Thinkstock
Jakarta -

Seorang wanita menjadikan ASI (air susu ibu) sebagai ladang bisnis. Ia pun sukses mendapatkan penghasilan hingga ratusan juta rupiah.

Julie Dennis, adalah ibu pengganti yang 'meminjamkan' rahimnya dan melahirkan bayi untuk pasangan suami-istri. Ide jualan ASI muncul sejak Agustus 2019 ketika dia pertama kali menjadi ibu pengganti.

Sebagai ibu pengganti, Julie juga menyediakan ASI bagi bayi yang dilahirkannya selama enam bulan. Begitu sang bayi sudah tidak harus mendapatkan ASI eksklusif, dia pun menjual 'sisa' air susunya.

Julie menjual ASI ke pasangan yang bayinya juga lahir dari ibu pengganti. Satu kantong ASI dihargai sekitar Rp 18 ribu. Hingga kini wanita berusia 32 tahun itu sudah menghasilkan uang Rp 284 juta hanya dari jualan ASI.

Ilustrasi ASI perahIlustrasi ASI perah. Foto: thinkstock

Sejauh ini Julie menyediakan kebutuhan ASI untuk dua bayi sampai usia mereka satu tahun. Setiap bulannya, guru SD ini bisa menghasilkan 443 liter susu yang disimpannya di kulkas sebelum dikirimkan ke pemesan.

Menurutnya tujuan jualan ASI bukan sekadar untuk mendapatkan keuntungan, tapi membantu pasangan lain yang kesulitan mendapatkan ASI. Lagipula dia juga tidak punya bayi untuk disusui sehingga berpikir tidak ada salahnya jika mendapat keuntungan dari itu.

"Saya tidak punya bayi untuk disusui setelah enam bulan pertama. Saya dapat kompensasi dari situ (menyusui selama enam bulan -red) dan setelah selesai, saya mulai memasarkan ASI di Facebook dan ada keluarga lain yang membutuhkannya. Mereka juga punya bayi lewat ibu pengganti tapi dia tidak mau atau tidak bisa menyusui jadi mereka menghubungiku," jelasnya, seperti dikutip dari LAD Bible.

Menjual ASI secara online bukannya tanpa kontroversi. Wanita asal Florida, Amerika Serikat, ini mengaku sering mendapat kritik karena mendulang uang dengan cara seperti itu.

Ilustrasi ASI perahIlustrasi ASI perah Foto: thinkstock

"Saya dapat komentar yang menjelekkan-jelekkan karena meminta kompensasi untuk waktu yang saya habiskan dengan memompa ASI. Karena banyak dari mereka berpikir kalau ASI itu didapatkan secara gratis jadi kenapa saya harus menjualnya," ucapnya.

Menurutnya yang tidak diketahui orang-orang adalah waktu yang dia habiskan untuk memompa, membungkus dan mensterilkan alat pompa ASI. Selain itu kantong ASI juga harus dibeli dengan uang.

"Saya menghabiskan waktu berjam-jam untuk memompa ASI setiap harinya. Ditambah waktu untuk membersihkan, membungkus dan mensterilkan alat pompa ASI setiap kali selesai pemakaian," kata Julie.

Dia juga harus mengganti beberapa bagian alat pompa setiap 6-8 minggu. Belum lagi harga mesin sterilisasi dan empat alat pompa yang memerlukan biaya tidak sedikit untuk membeli serta merawatnya.

"Butuh kerja keras untuk memompa ASI secara eksklusif dan ini merupakan pekerjaan atas nama cinta," pungkasnya.



Simak Video "Virtual Meeting Jadi Angin Segar Bagi EO di Masa Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(hst/hst)