Perjalanan Amar, Transgender yang Viral Karena dari Keluarga Pesantren

Daniel Ngantung - wolipop Jumat, 21 Agu 2020 12:00 WIB
Amar Alfikar, Transgender Anak Kiai Amar Alfikar (Foto: Dok. Pribadi)
Kendal -

"Yang beda jangan disamakan, yang sama jangan dibeda-bedakan."

Pesan mendiang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tentang semangat pluralisme dan toleransi itu selalu terngiang di benak Amar Alfikar. Kalimat tersebut yang lantas menguatkan tekad Amar untuk bertransisi dari seorang perempuan menjadi laki-laki, terlepas dari statusnya sebagai anak seorang kiai.

"Gus Dur itu salah satu dari beberapa tokoh Muslim yang menginspirasiku untuk kuat, untuk terus berjuang menjadi seorang queer Muslim atau transgender Muslim. Kemudian ada Buya Hamka. Buya Hamka hadir dalam sidang ganti jenis kelamin pertama di Indonesia, tapi banyak orang yang tidak tahu itu," ungkap Amar saat berbincang dengan Wolipop detikcom belum lama ini.

Sosok Amar sempat viral setelah berbagi kisah hidupnya di Twitter pada Juni lalu. Amar tumbuh di tengah keluarga pesantrenan yang kuat di Kendal, Jawa Tengah. Ayahnya seorang kiai, dan ibunya dikenal sebagai nyai. Bergumul dengan identitas gender, Amar merasa berada di tubuh yang salah. Jiwa lelakinya lebih dominan.

Setelah melalui pergulatan batin yang panjang, ia akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang transpria. Meski kedua orangtuanya menerima keputusan tersebut, hidup Amar tak semerta-merta berjalan mulus.

Hinaan dan ejekan menjadi makanan sehari-harinya. Ia pun kenyang dengan cacian dan kutukan dengan mengatasnamakan agama.

Beruntung bagi Amar, pengalaman tersebut tak membuatnya kepahitan secara spiritual. Pemikiran sejumlah cendekiawan besar Muslim Indonesia, termasuk Gus Dur, membantunya untuk bertahan hidup sebagai minoritas gender.

Kiai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur (lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940  meninggal di Ciganjur, 30 Desember 2009 pada umur 69 tahun)[1] adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001.Kiai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur (lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 meninggal di Ciganjur, 30 Desember 2009 pada umur 69 tahun)[1] adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001. (Foto: Getty Images)

"Aku mungkin tidak pernah bertemu beliau secara langsung, tapi prinsip hidup beliau, pembelaan beliau terhadap Ahmadiyya, Syiah, bahkan beliau menjadi pembimbing organisasi waria Indonesia semasa hidupnya, itu menginspirasiku untuk terus berjuang bahwa it's ok to be different," terang Amar tentang sosok Presiden ke-4 RI itu.

Amar yang pernah mengenyam pendidikan sastra Indonesia di sebuah kampus negeri di Semarang, bercita-cita melanjutkan studinya ke jenjang pasca-sarjana dengan mengambil bidang hak asasi manusia.

Sembari menanti peluang tersebut, Amar menyibukkan diri berbagi pengalamannya sebagai seorang transgender yang berasal dari sebuah komunitas pesantren.

"Aku beruntung bahwa di lingkungan agama yang aku tumbuh, mereka mengimani agama bukan dengan cara yang kasar. Mereka mengimani agama dengan bahasa yang penuh kebijaksanaan, dengan membangun hubungan yang harmonis dengan agama lain dan kebudayaan lokal. Islam yang semacam Islam rahmatan lil alamin atau islam yang teduh, humanis, pluralis, toleran," ungkapnya.



Simak Video "Kisah Transgender Amar, Bersikap Setelah Bertemu Tokoh Agama"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)