Demo Santuy ala Gen Z, Poster Lucu hingga Naik Mobil Mewah

Gresnia Arela Febriani - wolipop Sabtu, 05 Okt 2019 08:36 WIB
Foto: via Twitter @yeahmahasiswa Foto: via Twitter @yeahmahasiswa

Jakarta - Sepekan kemarin aksi demontrasi mahasiswa di depan Gedung DPR yang menyuarakan sejumlah tuntutan terkait RUU KUHP dan RUU KPK, tidak hanya di Jakarta. Aksi serupa juga tersebar di beberapa wilayah di Indonesia, seperti Solo, Semarang, Riau, Medan, dan Makassar. Para mahasiswa di daerah berdemonstrasi dengan menyasar Gedung DPRD setempat.

Demo para mahasiswa ini menarik atensi banyak orang terutama pengguna internet. Yang menarik adalah bagaimana cara para mahasiwa itu menyampaikan aspirasinya.

Khas anak muda, pesan cinta nan lucu ditulis oleh mereka di poster-poster yang dibawa saat berdemonstrasi. Namun bukan berarti kalimat yang ditulis tak mengandung pesan menohok untuk pemerintah dan DPR. Tulisan-tulisan di poster tersebut di antaranya: Bukan Cuma Hati yang Lemah, KPK juga Lemah, Jangan Matikan Keadilan, Matikan Saja Mantan Aku, Entah Apa yang Merasukimu Hingga Kau Tega Mengkhianatiku DPR.



Demo Santuy ala Gen Z, Poster Lucu hingga Naik Mobil MewahFoto: via Twitter @yeahmahasiswa


Selain melalui poster lucu, ada juga aksi lainnya dari para gen Z ini yang menjadi viral. Seperti seorang mahasiswi di Malang yang berdemo sekaligus melakukan review makeup. Ada juga mahasiswi di Surabaya yang demo dengan naik mobil mewah.

Kenapa aksi demo gen Z atau anak-anak zaman now ini begitu berbeda dengan mahasiswa dulu pada reformasi 1998? Psikolog Tiara Puspita N. mengatakan gen Z dan generasi yang berdemo pada 1998 memiliki karakter yang beda.

Demo Santuy ala Gen Z, Poster Lucu hingga Naik Mobil MewahFoto: Instagram @ffernandafg


"Ini sebenarnya pergeseran karakter. Karena generasi Z saat ini anak-anak lebih punya privilege, fasilitas lebih baik dibandingkan dulu. Dulu mana ada yang memakai mobil pribadi dan skincare," ujar Tiara saat berbincang dengan Wolipop melalui telepon.

Menurut Tiara, sosial media juga mempengaruhi kehadiran anak-anak gen Z ini untuk berdemo. Jika dulu informasi tidak bisa cepat didapatkan dan tersebar, kini media sosial bisa memudahkan semuanya.

"Mahasiswa melakukan aksi itu karena melihat dari situasi. Anak-anak sekarang kan cepet banget dapat informasinya. Jadi kalau dulu yang turun itu hanya BEM atau aktif di kampus, sekarang lebih luas nggak cuma yang aktif di organisasi, tapi semua kalangan," ujarnya.

Media sosial juga membuat aksi demo mahasiswa ini semakin viral dan akhirnya membuat makin banyak yang ikut turun ke jalan untuk protes. "Akhirnya memicu solidaritas universitas lainnya untuk ikutan juga. Bahkan anak-anak yang universitasnya terkenal tidak pernah demo pun jadi ikut demo," tambah Tiara.

Banyaknya mahasiswa yang ikut berdemo ini menurut Tiara juga karena mereka memandang kebijakan baru yang dibuat pemerintah sudah menyentuh batasan pribadi. "Dan akan berpengaruh pada tatanan dalam masyarakat. Makanya mereka menunjukkannya dengan turun ke jalan, tidak hanya golongan tertentu tapi semua lapisan termasuk yang nggak biasa kena panas, sampai mau kena panas," pungka psikolog 32 tahun itu.




Simak Video "Proses Membuat Batik Shibori Karya Warga Binaan Rutan Trenggalek"
[Gambas:Video 20detik]
(eny/eny)