Kisah Inspiratif Mahasiswi Cantik, Dulu Pengungsi Suriah Kini Jadi Ilmuwan

Anggi Mayasari - wolipop Senin, 04 Mar 2019 16:37 WIB
Shoushi Bakarian. Foto: Dok. Instagram @globeandmail Shoushi Bakarian. Foto: Dok. Instagram @globeandmail

Jakarta - Menjalani kehidupan yang sulit di tengah perang tak menjadikan Shoushi Bakarian menyerah pada impiannya. Ia pun kini menjadi wanita yang mampu menciptakan teknologi canggih di dunia penerbangan.

Empat tahun lalu, Bakarian tinggal bersama keluarganya di Aleppo, Suriah, menghadapi masa depan yang tak pasti karena perang saudara yang berkecamuk di negara asalnya. Bakarian pun harus menyelesaikan pendidikan sekolah menengahnya di tengah perang dan bom.

"Sekolah kami berada di garis depan, jadi kami harus belajar di taman kanak-kanak di kursi-kursi kecil ini. Di kelas 10, bom besar dimulai, pada kelas 11, kami tidak memiliki listrik atau air mengalir atau internet. Beberapa mulai pergi tetapi kami tidak tahu bagaimana keluar dari Aleppo," cerita Bakarian seperti dilansir The Globe and Mail.



"Kami tidak tahu siapa yang berada di jalan menunggu untuk menculik kami. Terlebih lagi, bom bisa mendarat dimana saja sewaktu-waktu. Begitu rudal mulai jatuh, kami tidak tahu dari mana itu berasal," imbuhnya.

Wanita berusia 21 tahun ini pun kemudian pindah ke Lebanon saat ibunya sakit dan membutuhkan operasi. Ia bersama kakak perempuan, ayah, dan ibunya terpaksa tinggal di Lebanon selama setahun.

Shoushi BakarianShoushi Bakarian Foto: Dok. Instagram @globeandmail


Kedua orangtua Bakarian menyimpulkan bahwa pendidikan dan kesempatan kerja di Lebanon sangat terbatas. Saat itulah Kanada membuka pintu bagi para pengungsi Suriah, dan keluarga Bakarian memanfaatkannya untuk pindah lagi.



Setelah menjalani periode sulit yang diselimuti kekerasan dan mengungsi ke Lebanon, pada Desember 2015 keluarganya pindah ke Montreal, Kanada. Bakarian mulai mengambil pekerjaan paruh waktu di McDonald's untuk mendukung kebutuhan keluarganya dan mempertimbangkan beberapa universitas untuk mengejar mimpinya menjadi insinyur di industri dirgantara. Hingga akhirnya, ia berhasil menjadi mahasiswa di Universitas Concordia.

Mahasiswa Teknik Aerospace tahun ketiga ini pun sukses menciptakan penemuan 'The Ventus', aksesori pengisi daya 5 volt untuk pesawat Cessna yang yang mengalir dari ventilasi udara pesawat dan juga mendinginkan udara dengan mengompresnya. Bakarian bahkan mendapat dua pekerjaan dengan prospek yang menjanjikan di Bombardier Aerospace dan Stratos Aviation.

"Aku ingin menjangkau perempuan dan memberi tahu mereka bahwa mereka tidak harus membatasi diri pada pekerjaan tradisional, seperti guru. Khusus untuk anak perempuan dari komunitasku, mereka memiliki gagasan yang sangat terbatas tentang apa yang ada di luar sana. Aku ingin menjadi contoh," kata Bakarian.

(agm/hst)