Artis Dihujat karena Prostitusi Online, Ini Pesan Psikolog untuk Netizen

Anggi Mayasari - wolipop Rabu, 09 Jan 2019 15:12 WIB
Ilustrasi prostitusi online. Foto: Andhika Akbarayansyah Ilustrasi prostitusi online. Foto: Andhika Akbarayansyah

Jakarta - Nama Vanessa Angel jadi perbincangan hangat setelah dirinya terciduk polisi terlibat dalam prostitusi online. Kasus yang menjerat artis FTV ini pun jadi bahan guyonan dan ejekan netizen.

Sempat ditangkap oleh Mapolda Jatim terkait kasus prostitusi online, Vanessa Angel masih berstatus sebagai saksi. Namun, kasus prostitusi online yang melibatkan artis Vanessa Angel ini membuat banyak netizen berkomentar dan menilai negatif tentangnya.

"Kok nggak jadi tersangka? Kan emang dia pelayannya, eh pelakunya," komentar netizen.

"Sudah tidak populer, dan bertahan dengan gaya mewah ya mau nggak mau jual diri, mungkin otaknya dangkal mengandalkan wajah dan body, miris," tambah netizen lainnya.

Banyaknya cacian dari netizen untuk Vanessa Angel ini disayangkan oleh psikolog klinis dan forensik Kasandra Putranto. Menurutnya, masyarakat seharusnya tidak menyudutkan Vanessa Angel.



Kasandra menjelaskan bahwa pelaku yang terlibat dalam prostitusi adalah saksi korban yang tidak akan terkena hukum. Hanya saja yang paling berat bagi pelaku adalah hukuman sosialnya.

"Abis dibully netizen. Kasian loh perempuan itu Ibu Bangsa, harus dilindungi dari praktik macam ini. Karena keterbatasan pengetahuan dan pengendalian dirinya, ingin jadi terkenal, ingin tampil maksimal, ingin masuk ke dunia gemerlap, mereka dimanipulasi," ungkap Kasandra saat dihubungi Wolipop, Selasa (8/1/2019).

Kasandra menambahkan bahwa banyak artis muda yang terjebak masuk ke prostitusi online. Ia pun mengungkapkan fenomena bahwa di dunia artis kerap terjadi jebakan demi kemasyuran dan ketenaran sehingga ikut dalam lingkaran human trafficking.

"Pada kasus VA saya belum bisa menentukan sebelum melakukan pemeriksaan apakah ada manipulasi dan intimidasi sehingga terjadi prostitusi," imbuh Kasandra.



Ia pun menyoroti hukum di Indonesia yang belum menjerat pengguna jasa prostitusi, padahal di banyak negara sudah melakukan model hukuman bagi pembeli seks. Selama di Indonesia masih menganut sistem hukum abolition, yakni menjual jasa seks dan membelinya sama-sama dianggap legal, hanya penyedia jasanya yang dianggap ilegal, maka kesempatan bagi para muncikari akan selalu terbuka.

"DPR selaku penyusun UU belum mau membuat UU untuk praktik prostitusi. Keterbatasan untuk memiliki pengetahuan tentang hukum, situasi sosial, kapasitas pengendalian diri, melindungi diri dari jebakan dunia prostitusi," jelas Kasandra.


Simak Juga 'Arie Kriting Bicara Soal Prostitusi Online':

[Gambas:Video 20detik]



(agm/eny)