Putri Keraton Protes Film yang Tampilkan Sultan Agung Pakai Batik Parang Kecil

Hestianingsih - wolipop Rabu, 07 Mar 2018 16:42 WIB
Foto: Instagram
Jakarta - Batik sudah diakui UNESCO sebagai Budaya Tak-Benda Warisan Manusia sejak 2009. Bisa dibilang, batik merupakan kekayaan budaya Nusantara yang sudah cukup dikenal hampir seluruh lapisab masyarakat Indonesia.

Tapi rupanya belum banyak yang memahami makna dan sejarah dari batik itu sendiri. Sebuah produksi film Indonesia dikritik oleh salah satu putri Keraton Yogyakarta, karena dianggap keliru menampilkan batik sebagai kostum yang dikenakan pemainnya.

GKR Bendara, anak dari Sri Sultan Hamengkubuwono X mengritik produksi film tersebut di akun Instagram miliknya. Ia menampilkan potongan foto yang menunjukkan pemeran Sultan Agung sedang mengenakan pakaian keraton dengan bawahan kain batik motif parang. Menurutnya, batik parang tersebut tidak seharusnya dipakai seorang raja.

"Aduuuh duh duh... hancur hati ku... yg memerankan Sultan Agung kok ya pake parang yg kecil dan warna nya biru pula 😭😭😭... padahal yg membuat Parang Barong adalah Ibu beliau," tulis GKR Bendara pada caption foto.

Dia melanjutkan, "Malah yg memerankan Abdi dalem di belakangnya yg pake Parang lbh besar 😱😱😱😱."




GKR Bendara pun menyarankan agar kru produksi film tersebut mencari tahu lebih banyak referensi sejarah tentang Keraton Yogyakarta. Salah satunya di akun Facebook KratonJogja.

"Baru minggu lalu sy bicara tentang Parang Barong di Pameran Taman Pintar. Sedih saya lihatnya... #hancurhatiku #kitapelestaribudaya," tulis GKR Bendara lagi.

Parang merupakan motif batik yang disakralkan dan penggunaannya tidak boleh sembarangan di kalangan keraton. Batik motif parang diciptakan dalam berbagai jenis dan ukuran.
Putri Keraton Protes Film yang Tampilkan Sultan Agung Pakai Batik Parang KecilFoto: Instagram

Parang Barong, ukurannya paling besar dan hanya boleh dipakai oleh seorang Raja. Sedangkan Permaisuri menggunakan motif parang yang lebih kecil.

"Pengunaan Parang hanya boleh untuk kerabat Kraton. Yg ber ukuran 12 cm hanya diperuntukan Raja, yg ber ukuran 8 cm untuk Permaisuri dan yg lebih kecil lagi unt putri dan Pangeran," jelas GKR Bendara.

Seperti dikutip dari detiknews, motif parang barong disebut sebagai induk dari motif parang lainnya karena kesakralannya. Ukuran motifnya yang besar menunjukkan kedudukan besar yang dimiliki raja.




Motif ini diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma yang merepresentasikan jiwanya sebagai raja. Motifnya yang digambarkan berkesinambungan secara diagonal melambangkan perjuangan yang tak pernah terputus.

Dalam potongan adegan film tersebut terlihat juga peran abdi dalem memakai kain batik motif parang. Padahal, abdi dalem tidak diperbolehkan memakai motif tersebut.

"Motif parang hanya boleh digunakan raja, permaisuri, dan keluarganya," ujar menantu Sri Sultan HB VIII BRAy Poeroeboyo.

Poeroeboyo menjelaskan, abdi dalem yang mengenakan motif tersebut akan langsung ditegur jika ketahuan. Meskipun tidak ada sanksi khusus untuk abdi dalem yang kedapatan memakai motif terlarang itu.

"Ya ditegur saja, kok kesannya menyamai raja," kata Poeroeboyo.

GKR Bendara tidak menyebutkan judul film yang dimaksud. Namun sejumlah pengguna Instagram di postingan GKR Bendara menyebut kalau film tersebut merupakan garapan sutradara Hanung Bramantyo, yang mengangkat tentang kisah kehidupan Raja Mataram Islam, Sultan Agung. (hst/hst)