4 Anggapan Keliru Tentang Putri Keraton Yogyakarta Menurut GKR Hayu

Hestianingsih - wolipop Jumat, 16 Jun 2017 16:34 WIB
Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Apa yang terlintas di pikiran Anda tentang putri keraton? Umumnya, orang akan membayangkan sosok wanita yang lemah lembut, berpenampilan tradisional dengan kebaya dan sanggul serta selalu ditemani dan dilayani dayang-dayang di sekelilingnya.

Imej putri keraton yang muncul selama ini memang demikian adanya, karena pengaruh tayangan sinetron, film atau cerita rakyat. Namun menurut GKR (Gusti Kanjeng Ratu) Hayu, kebanyakan anggapan orang awam tentang sosok putri keraton merupakan stereotipe, alias tidak sepenuhnya benar.

"Ada satu mantan bawahanku yang bilang, '(kamu) menghancurkan bayanganku tentang seorang princess'. Banyak yang mengira kita hidupnya masih seperti Cinderella dengan dayang di mana-mana," kata GKR Hayu, saat berbincang eksklusif dengan Wolipop di kantor detikcom, Jalan Kapten P. Tendean, Jakarta Selatan, Rabu (14/6/2017).

Putri Keraton Yogyakarta ini mengatakan kehidupan keraton di masa sekarang sudah sangat berbeda dengan masa sekitar 20-30 tahun lalu. Apa saja stereotipe yang keliru menurut GKR Hayu?

1. Putri Keraton Selalu Penurut dan Berbicara Halus
4 Anggapan Keliru Tentang Putri Keraton Yogyakarta Menurut GKR HayuGKR Hayu. Foto: Muhammad Ridho

"Banyak orang kira putri keraton nggak boleh bawa yang berat-berat, kalau ngomong semuanya halus, manis. Karena kebanyakan orang Jawa halus kalau ngomong. Sementara kami dibesarkan sama sekali tidak seperti itu," kata putri keempat dari Sultan Hamengkubuwono X dan GKR Hemas ini.

GKR Hayu mengatakan imej dirinya di keraton dan di mata para bawahannya cenderung kritis dan galak. Ketika harus berdebat untuk sesuatu yang menjadi prinsipnya atau dirasanya benar, maka GKR Hayu tak segan untuk bersikap tegas.

2. Putri Keraton Selalu Dilayani Bak Permaisuri
4 Anggapan Keliru Tentang Putri Keraton Yogyakarta Menurut GKR HayuGKR Hayu. Foto: Muhammad Ridho

Satu lagi stereotipe yang salah di kalangan awam menurut GKR Hayu, adalah seorang putri keraton harus selalu dilayani. Pada kenyataannya, wanita yang ahli di bidang IT ini beserta keempat saudara perempuannya sudah diajar mandiri sejak remaja.

"Kuliah S1 kami diharuskan di luar negeri, supaya mandiri. Karena di rumah pembantu banyak dan di Jogja posisi anak sultan sangat 'wow'. Mau nggak mau unconsciously ada special treatment," ujar wanita lulusan Design and IT Project Management di Bournemouth Univesity, Dorset, Inggris ini.

Hal itulah yang berusaha dicegah Sultan Hamengkubuwono X dan istrinya, GKR Hemas. Saat sekolah di luar negeri, putri-putrinya tidak boleh membawa asisten atau pelayan dan harus hidup sendiri. Tujuannya agar ketika pulang ke Indonesia, mereka jadi wanita yang mandiri.

3. Dikelilingi Para Pengawal Pribadi
4 Anggapan Keliru Tentang Putri Keraton Yogyakarta Menurut GKR HayuGKR Hayu. Foto: Muhammad Ridho

"Ibu bilang ajudan bapak adalah ajudan yang kerjanya paling enak. Karena kita sekeluarga justru risih kalau diikutin. Kami sering ditanya, 'kok nggak bawa ajudan?' segala macam," tutur GKR Hayu, yang juga tidak membawa ajudan maupun mobil pribadi dan memilih menumpang taksi online saat berkunjung ke kantor detikcom.

4. Abdi Dalem adalah Pembantu Raja
4 Anggapan Keliru Tentang Putri Keraton Yogyakarta Menurut GKR HayuGKR Hayu. Foto: Muhammad Ridho

Hal inilah yang coba diluruskan GKR Hayu tentang anggapan orang bahwa abdi dalem adalah 'kata lain' dari pembantu atau pelayan. Sebab, dua posisi tersebut adalah sesuatu yang berbeda.

"Abdi dalem adalah abdi budaya, voluntir. Mereka relawan yang mengabdikan waktunya untuk berkontribusi pada keraton. Abdi dalem adalah voluntir waktu, mengabdi," jelas GKR Hayu.

Oleh karena itu keraton Yogyakarta tidak pernah melakukan perekrutan untuk mencari abdi dalem. Tapi mereka sendiri yang mengajukan permohonan atau pengajuan diri dengan siap berkomitmen untuk berkelakuan baik dan menunjung tinggi tata krama, serta setia mengabdi pada Sultan.



(hst/eny)