Ungkap Arti Cantik Sejati dari Wanita Albino & Penderita Sindrom Kulit Merah

Daniel Ngantung - wolipop Minggu, 07 Feb 2016 15:13 WIB
Foto: Daniel Ngantung
Jakarta - Jayne Waithera, asal Kenya, bukan tipikal wanita Afrika pada umumnya. Kulitnya putih pucat, begitu pula rambut dan bulu yang tumbuh di tubuhnya. Jayne adalah seorang albino.

Ratusan kilometer dari Kenya, tepatnya di Amerika Serikat, Sarah Kanney juga berbeda dari orang kebanyakan. Ia mengalami sindrom Sturge-Webber yang membuat hampir sekujur wajahnya dipenuhi semacam tanda lahir berupa bercak kemerahan.

Menjalani hidup dengan kondisi fisik yang berbeda tidaklah mudah bagi Jayne dan Sarah. Perundungan alias bullying seperti ejekan dan tatapan jijik sudah menjadi 'makanan' mereka sehari-hari. Mereka pun merasa terkucilkan dan tidak berdaya.

Kondisi semakin diperparah oleh persepsi orang tentang keelokan fisik yang seakan sudah terpatenkan oleh pencitraan mereka yang muncul di panggung catwalk, halaman majalah mode, atau iklan produk kecantikan di TV.

Di tengah 'kesendirian' mereka, muncul sosok Rick Guidotti, mantan fotografer fashion yang membawa sebuah misi mulia. Ia ingin mengubah persepsi jamak orang-orang tentang kecantikan dengan mengabadikan mereka yang mengalami kelainan genetik. Fotografer yang pernah memotret supermodel kondang Cindy Crawford dan Claudia Schiffer ini ingin membuktikan bahwa mereka cantik terlepas dari perbedaan fisiknya.

Kisah inilah yang diangkat sutradara Joanna Rudnick dalam film dokumenternya bertajuk 'On Beauty'. Menitikberatkan pada misi Rick, film berdurasi 30 menit ini turut menguak masa lalu Jayne dan Sarah yang penuh kepahitan karena penampilan fisiknya.

Sarah bercerita, teman-teman sebayanya selalu mengejek dan menatapinya dengan penuh rasa jijik. "Aku selalu menunduk supaya tidak melihat tatapan mereka," kata wanita yang telah menjalani sejumlah operasi mata usia sejak usia tiga tahun.  

Sampai akhirnya saat duduk di bangku 2 SMP, ia memutuskan berhenti bersekolah lantaran tidak tahan lagi dengan perlakuan teman sebayanya. Khawatir mendapatkan perlakuan yang sama, Sarah meminta orangtuanya untuk home-schooling saja.

Sarah boleh dibilang lebih beruntung dari Jayne karena memiliki orangtua yang sangat menyayanginya. Terlahir sebagai albino, Jayne dicampakkan oleh orangtuanya sendiri. Di Afrika, albino dianggap semacam kutukan tapi di sisi lain, albino juga menjadi komoditas. Banyak orang di Afrika, khususnya Tanzania, yang memburu albino untuk diambil organ tubuhnya lalu dijual. Mereka percaya organ tubuh Albino dapat membawa keberuntungan.  

Hidup tanpa orangtua, Jayne lantas dibesarkan oleh neneknya yang dengan setia merawatnya seperti anak sendiri. Dalam sebuah cuplikan, Jayne sempat bertanya kepada sang nenek kenapa mau mengasuhnya. Lalu neneknya menjawab, "Karena kamu sama saja seperti orang lainnya."

Terlahir dari orangtua yang tidak memedulikannya membuat Jayne sempat merasa kecewa dan terkucilkan. Tapi ia tidak mau kekecewaan yang berlarut-larut menguasai dirinya. Meski kondisi albinonya mengganggu penglihatannya, ia tetap memilih sekolah biasa ketimbang sekolah orang berkebutuhan khusus. Ia ingin dianggap seperti orang normal lainnya.

Di 'On Beauty', Joanna mendokumentasikan bagaimana Rick mengubah kehidupan kedua wanita ini dengan memanfaatkan keahliannya sebagai seorang fotografer. Dipotret bak seorang model, Sarah dan Jayne yang sebelumnya menutup diri karena malu seperti menemukan rasa percaya diri yang sudah lama menghilang.

"Aku tidak pernah merasa cantik seperti sekarang. Senang rasanya melihat Rick melepaskan kebahagian dari diriku," ujar Sarah saat pemotretan.

Ide untuk proyek dokumenter 'On Beauty' muncul saat Joanna menghadiri pameran foto karya Rick yang menampilkan mereka dengan kelainan genetik. Terinspirasi oleh foto dan misi di baliknya, ia lantas menawarkan Rick tentang ide film tersebut.

"Saya kagum oleh semangat Rick yang ingin mengubah cara pandang orang tentang arti cantik sebenarnya. Siapa saja cantik apa adanya. Saya pun ingin terlibat di dalamnya," ujar Joanna saat ditemui Wolipop selepas acara screening dan diskusi 'On Beauty' di @America, Pacific Place, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2/2016).

Setelah mendapat lampu hijau dari Rick, ia pun mengikuti perjalanan Rick bertemu Jayne dan Sarah. Diakui Joanna, awalnya ia sempat kesulitan meyakinkan Jayne dan Sarah agar mau berbagi cerita. Sebagai solusi, Joanna pun melakukan pendekatan dengan menceritakan pengalaman hidupnya. Sebagai seorang yang pernah divonis kanker payudara, Joanna sempat merasa terkucilkan. Bukan oleh masyarakat, melainkan stigma yang dibangunnya sendiri.

Banyak kejadian yang membuat hati Joanna bergejolak saat proses pengambilan gambar. Salah satunya saat mengikuti Jayne mengunjungi gubuk neneknya di tengah hutan Kenya. Sebagai seorang ibu dari dua anak, ia merasa terenyuh saat melihat betapa nenek Jayne sangat menyayanginya.

"Sungguh sedih rasanya mendengar cerita ada seorang ibu yang membuang anaknya karena takut tidak diterima oleh masyarakat karena fisiknya," kata wanita yang berdomisili di San Fransisco ini.

Pengalaman yang sangat personal juga dirasakan Joanna ketika pertama kali bertemu Sarah dan ibunya di pemotretan bersama Rick. Pemotretan itu adalah saat pertama kalinya Joanna bertemu Sarah. Tapi bagi Joanna, momen yang paling mengharukan adalah melihat ekspresi ibunda Sarah.

"Betapa bahagia sang ibu akhirnya bisa melihat putrinya tersenyum lagi. Momen itu sangat menusuk hati saya," kenang wanita yang telah bergelut di dunia film dokumenter sejak 15 tahun lalu itu.

Joanna berharap, film tersebut dapat mendefinisikan ulang arti cantik sebenarnya dan membuka mata masyarakat tentang mereka yang hidup terkucilkan karena fisiknya serta memperlakukan orang secara adil.

"Saat melihat orang yang berbeda dari kita, jangan berikan tatapan yang menyudutkan. Perlakukan mereka seperti yang lain. Baiknya, tanya mereka apa saja supaya mereka merasa eksis," kata wanita yang berdomisili di San Fransisco, Amerika Serikat, ini.

Di sisi lain, film yang telah diputar di berbagai festival film di seluruh dunia ini diharapkan turut memotivasi orang, khususnya mereka yang merasa terkucilkan, agar lebih berani berbicara. Dampaknya sudah terlihat dari respon para penonton.

"Setelah menonton, mereka, khususnya anak-anak muda, mendatangi saya dan bercerita bahwa mereka juga pernah di-bully, tidak pernah merasa mencintai dirinya. Ada proses katarsis atau penyembuhan diri saat menyaksikan film ini. Beban Anda sepertinya lepas karena diberikan kemampuan untuk membicarakannya dengan orang lain," kata sutradara nominator Emmy ini.

Pelajaran penting lain yang bisa dipetik dari film pemenang Audience Award di Chicago International Film Festival 2014 ini adalah tentang penerimaan diri. "Rasa percaya diri itu cantik. Jika kamu menerima dirimu apa adanya, berarti kamu cantik," kata Joanna. (dng/hst)