Jumat, 30/08/2013 11:31 WIB

Liputan Khusus Diet Corbuzier

Diet Ala Deddy Corbuzier = Tidak Boleh Makan Pagi. Kenapa?

Eny Kartikawati - wolipop

img
Foto: Dok. Pribadi Deddy Corbuzier
Jakarta - Sarapan atau makan pagi sudah menjadi kebiasaan yang rutin Anda lakukan sejak masih anak-anak. Sarapan penting karena dianggap bisa membuat Anda memiliki amunisi untuk beraktivitas. Namun dalam diet ala Deddy Corbuzier, sarapan atau makan pagi ini justru tidak dianjurkan. Kenapa?

Dalam e-book tentang OCD atau Obsessive Corbuzier Diet yang dirilisnya sejak 1,5 bulan lalu, Deddy menjelaskan kenapa Anda justru harus berhenti makan pagi. Dia menuliskan sejumlah penelitian terbaru tentang sarapan.

Dalam definisi Deddy, sarapan atau breakfast bukanlah makan segera setelah bangun tidur atau sebelum pergi sehari-hari. Breakfast justru berarti break fasting atau buka puasa.

Deddy pun menuliskan sebuah penelitian yang menurutnya membuktikan kalau sarapan atau tidak, tidak ada hubungannya dengan seberapa banyak orang makan di waktu berikutnya. "Sebuah studi menunjukkan orang makan makanan ukuran yang sama saat makan siang dan makan malam terlepas dari berapa banyak mereka makan untuk sarapan. (Artinya orang makan pagi atau tidak makan pagi maka jumlah makan siang dan malam nya akan sama.. bukan berarti kalau makan pagi maka makan siang akan jadi sedikit dan makan malam jadi sedikit seperti kata para ahli gizi sekarang.) Ini menantang kebijaksanaan konvensional bahwa jika Anda melewatkan sarapan, Anda kemudian akan kelaparan dan menjadikan makan siang sebagai tumbal lapar dan makan lebih banyak lagi," begitu uraian yang ditulisnya.

Menurut pria yang dikenal sebagai presenter Hitam Putih itu jumlah makan seharusnya bukan dihitung berdasarkan belum atau sudah makan orang itu sebelumnya. Jumlah makan dibuat hanya karena kebiasaan di otak. "Apabila Anda biasa rakus maka Anda akan tetap rakus baik sudah atau belum makan pagi," tulis Deddy dalam e-book-nya.

Deddy juga mengutip penelitian yang dimuat dalam British Journal of Nutrition akhir Januari 2013. Dalam penelitian tersebut dikatakan latihan sebelum sarapan membakar 20 persen lemak tubuh ketimbang latihan yang sama setelah makan pagi.

"Dalam rangka untuk menurunkan lemak tubuh kita perlu menggunakan lebih banyak lemak untuk energi... meningkatkan jumlah total energi yang kita habiskan, dan proporsi yang lebih besar dari energi ini berasal dari pembakaran lemak yang ada jika latihan dilakukan setelah puasa semalam tanpa sarapan," ujar tim peneliti Doktor Javier Gonzalez pada Science Daily seperti dikutip e-book OCD.

Apakah memang sarapan sebenarnya tidak efektif? Pendapat berbeda dipaparkan pakar gizi dan nutrisi dari Institut Pertanian Bogor Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS. Menurut Hardinsyah, sampai saat ini secara ilmiah tidak ada yang menunjukkan kalau sarapan berdampak buruk pada kesehatan ataupun tubuh.

Dijelaskan Hardinsyah, sarapan bukan hanya berkaitan dengan berat badan, tapi juga fungsi kognitif. Berbagai penelitian menunjukkan ketika sarapan, orang lebih bisa berkonsentrasi dan memiliki daya ingat lebih baik.

Ketua PERGIZI PANGAN Indonesia ini tak lupa menyertakan bukti dari sebuah penelitian yang menunjukkan sarapan bisa lebih mudah membantu penurunan berat badan. Penelitian tersebut dilakukan Tel Aviv University. Mereka berhasil menemukan bahwa tidak melewatkan waktu makan dapat mudah mengendalikan berat badan. Selain itu juga porsi makan yang tepat juga sangat berpengaruh.

Soal sarapan yang bisa menyebabkan orang mengantuk, Hardinsyah mengatakan itu karena dilakukan dengan tidak benar. "Orang yang sarapan ngantuk, sarapannya terlalu banyak. Nggak sarapan ngantuk, terlalu banyak juga ngantuk," pungkasnya.

(eny/eny)


Artikel Wolipop juga bisa dibaca melalui aplikasi Wolipop Android, iPhone. Install sekarang!
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com


info sale