Kamis, 22/08/2013 07:38 WIB

Hitung Kalori untuk Turun Berat Badan, Cara Diet yang Ketinggalan Zaman

Hestianingsih - wolipop

img
dok. Thinkstock
Jakarta - Sejumlah pakar diet menyarankan untuk menghitung asupan kalori yang masuk ke tubuh jika ingin menurunkan berat badan. Tapi para peneliti justru menyatakan sebaliknya; jangan bergantung pada penghitungan kalori.
Menurut mereka, kebanyakan tabel informasi nilai gizi di kemasan makanan ditulis berdasarkan ilmu di abad 19 yang sudah ketinggalan zaman dan tidak sesuai jika diterapkan di masa kini. Dan cara makanan dimasak/diolah, serta metabolisme tubuh masing-masing orang bisa sangat berbeda dalam berapa jumlah kalori yang diserap.

Studi terbaru menemukan, 170 kalori yang terdapat dalam satu ons kacang almond mentah, yang diserap tubuh sebenarnya hanya 129 kalori. Sedangkan ketika makan makanan olahan, seperti sereal misalnya, jumlah kalori yang diserap seringkali lebih banyak daripada kalori yang tertera di tabel kemasan.

Percobaan telah dilakukan pada tikus. Saat diberi makan ubi mentah, berat badan mereka turun lebih dari empat gram. Sementara saat diberi makanan yang dimasak dengan jumlah yang sama, bobot tubuh tikus-tikus percobaan tersebut naik.

Bahkan ketika makanan diolah dengan cara yang sama, jumlah kalori yang masuk ke tubuh setiap individu bisa berbeda. Lain orang, lain pula cara tubuh mereka mencerna makanan karena tipe dan jumlah bakteri di usus masing-masing orang juga berbeda.

Pada seseorang yang obesitas misalnya, kemungkinan memiliki jenis bakteri tertentu di usus yang membuat tubuh mereka lebih efisien menyerap kalori, ketimbang orang yang bertubuh langsing. Ahli biologi Rob Dunn dari North Carolina State University, seperti dikutip Daily Mail mengatakan, sistem kalkulasi kalori di label kemasan sekarang ini sudah ketinggalan zaman.

Dalam tulisannya di jurnal Scientific American, ia mengatakan, "Pada akhirnya kita semua ingin tahu bagaimana menentukan pilihan yang paling pintar (saat belanja) di supermarket."

Dia juga menyatakan bahwa menghitung kalori berdasarkan label makanan adalah pendekatan yang kurang tepat dalam menjani diet sehat. "Tidak terlalu betpengaruh dalam meningkatkan kesehatan," ujarnya.

Maka dari itu Rob menyarankan, bagi Anda yang bertekad menurunkan berat badan, daripada membaca atau menghitung jumlah kalori, memperbanyak konsumsi makanan mentah bisa jadi cara yang lebih bisa diandalkan. Makanan mentah atau whole food umumnya perlu waktu lebih lama untuk dicerna ketimbang makanan olahan sehingga kalori yang masuk ke tubuh pun lebih sedikit.

Roti gandum misalnya, lebih sulit dicerna ketimbang roti tawar putih. Hasilnya, roti gandum jumlah kalorinya 10 persen lebih sedikit (yang diserap) ketimbang roti tawar putih.

Para ahli nutrisi juga mengingatkan bahwa label kalori di kemasan makanan telah mengenyampingkan konten energi pada serat selama bertahun-tahun. Artinya, pelaku diet tidak sadar dan tidak tahu bahwa mereka telah mengasup lebih banyak kalori dari yang mereka kira. Sebagai contoh, satu mangkuk sereal dan kismis ukuran sedang mengandung 20 kalori lebih banyak daripada yang tertera di label.

Jadi saat akan menurunkan berat badan, sebaiknya tidak terpaku pada penghitungan jumlah kalori saja. Tapi apa dan bagaimana Anda makan. Makanan mentah (raw food) seperti sayuran dan buah segar (protein hewani tidak termasuk) perlu dikunyah lebih lama sehingga tubuh mengeluarkan energi lebih banyak. Hal ini bisa mengurangi asupan kalori yang masuk ke tubuh.

Perhatikan juga cara mengolah makanan. Whole food dan raw food lebih sehat ketimbang processed food karena kandungan gizi dan nutrisinya masih asli. Whole food merupakan makanan yang masih dalam bentuk (atau paling mendekati) aslinya. Sementara processed food adalah makanan yang bentuknya sudah berubah drastis dari aslinya.

Sebagai contoh, pisang rebus mengandung gizi yang lebih baik ketimbang keripik pisang. Atau ikan yang dikukus memiliki nutrisi yang jauh lebih banyak dibandingkan ikan yang sudah dibuat siomay atau kerupuk.

Artikel Wolipop juga bisa dibaca melalui aplikasi Wolipop Android, iPhone. Install sekarang!
(hst/kik)


Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com


Hot Products