Jumat, 08/03/2013 08:01 WIB

Liputan Khusus

Apa Isi Perjanjian Pranikah? Ini Dia Gambarannya

Arina Yulistara - wolipop
Apa Isi Perjanjian Pranikah? Ini Dia Gambarannya dok. Thinkstock
Jakarta - Prenuptial agreement (pre-nup) atau perjanjian pranikah penting dibuat sebelum menikah untuk memperjelas harta, hak, serta kewajiban pasangan suami-istri. Jika masih bingung isinya seperti apa, ini dia gambaran mengenai isi perjanjian pranikah yang dijelaskan oleh pengacara sekaligus salah satu pendiri situs pranikah, Ade Novita.

1. Soal Harta
Dalam perjanjian ini pembagian harta akan semakin jelas baik untuk suami maupun istri. Banyak pasangan menikah yang tidak mau penghasilannya digabung sehingga bisa diatur dalam perjanjian.

Selain itu, penentuan harta setelah berpisah entah karena ditinggal 'pergi' atau cerai sudah bisa diatur sejelas-jelasnya dalam perjanjian tersebut. Perjanjian ini memang sifatnya perlindungan harta yang semestinya dimiliki oleh orang yang tepat.

"Kita nggak bisa menentang takdir, ada yang secara alami hidupnya memang lebih cepat, ada yang tak disangka-sangka dia harus hidup sendiri. Hukum itu sifatnya pencegahan, kalau nanti terjadi sesuatu, apa yang bisa kita lakukan. Nah itu dasar-dasar perjanjian," tutur Ade kepada wolipop di Universitas Atma Jaya, Semanggi, Jakarta Selatan, Senin (4/3/2013).

Ade juga mencontohkan, misalnya saja ada seorang wanita anak tunggal dan dia akan mewarisi harta kekayaan orang tuanya secara besar-besaran maka itu bisa diatur apakah harta warisan menjadi milik bersama atau tetap punya istri. Mungkin bisa saja suami lebih berkuasa kemudian dia mengambil seluruh harta warisan dan dibagi-bagikan ke keluarganya karena dalam perjanjian perkawinan semua harta yang dihasilkan setelah menikah menjadi harta bersama.

Hal ini tentu menjadi ketidakadilan bagi sang istri. Maka dari itu dibuatlah perjanjian pranikah supaya pengaturan harta tersebut jelas dan kuat di mata hukum.

2. Hak dan Kewajiban
Tidak hanya harta saja, perjanjian juga mengatur hak dan kewajiban setelah menikah. Anda dan pasangan bisa menulis semua yang diinginkan saat berkeluarga dalam perjanjian.

"Apa saja yang bisa diatur, misalnya siapa yang mengurus rumah tangga itu bisa diatur, untuk urusan kerja berat suami, kan kalau pre-nup itu kebebasan berkontrak kita boleh nyantumin apa saja sepanjang nggak melanggar hak orang lain," papar wanita lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu.

Contohnya, istri masih boleh bekerja setelah menikah dengan syarat tidak menghilangkan tanggung jawabnya sebagai ibu. Tak hanya itu, bisa juga diatur mengenai hal-hal sepele, seperti siapa yang akan memilih sekolah anak sampai mencuci baju. Anda bisa mencantumkan semuanya yang dirasa perlu untuk dimasukkan ke dalam perjanjian selama masih disepakati oleh pasangan dan tidak melanggar batas hukum.

3. Anak
Perjanjian ini juga akan mengatur hak asuh atas anak bila bercerai. Sebagai contoh, bila salah satu pasangan selingkuh dan berakhir dengan perceraian maka anak akan ikut pihak yang masih menjaga janji suci pernikahan.

Menurut Ade, ini perlu dicantumkan karena terkadang perselingkuhan tidak hanya dilakukan oleh suami. Sedangkan dalam Undang-Undang mengatakan bahwa anak di bawah umur 12 tahun akan ikut istri. Sementara yang selingkuh istrinya namun tanpa perjanjian pranikah suami tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan adanya perjanjian, hak pengasuhan itu akan lebih jelas diaturnya.

Begitu pula dalam mengurus hingga memberikan biaya pendidikan. Itu bisa diatur lebih detail dengan perjanjian pranikah. "Biasanya kita menuliskan apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang akan mereka kerjakan berdua dan sendiri," ujar ibu tiga anak ini.

4. Harus Sama-sama Sepakat
Perjanjian yang dilakukan sebelum menikah ini harus disetujui oleh Anda dan pasangan tanpa ada paksaan. Tidak boleh terima saja apa yang ditulis karena itu akan mempengaruhi rumah tangga nantinya. Perjanjian pun akan menjadi pengingat mengenai komitmen yang telah disepakati bersama sejak awal.

"Dua-duanya harus setuju sama isinya. Mereka harus seimbang, banyak juga laki-laki, 'yau dahlah kamu tulis saja', nggak bisa begitu. Mereka buat perjanjian itu karena komitmen kan," imbuhnya kemudian.

Ade juga menambahkan, dalam buku nikah memang sudah terdapat janji-janji yang kalau dilanggar istri boleh langsung ke pengadilan minta cerai. Namun perjanjian pranikah tidak bisa menjadi alat cerai bila melanggar isi yang sudah disahkan oleh hukum. Mengapa? Karena jika ada yang dilanggar bisa dibicarakan lebih dulu.

Misalnya saja, isi perjanjian memperbolehkan istri melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya setelah menikah namun ternyata suami tidak mengizinkan. Hal ini bisa didiskusikan kembali. Perjanjian akan mengingatkan mengenai komitmen pasangan di awal. Jadi tidak bisa langsung cerai.

Namun perjanjian itu masih bisa diubah selama disepakati oleh Anda dan suami. "Boleh saja dibawa ke pengadilan tapi bisa di-review karena perjanjian itu bisa diubahkan sepanjang keduanya menyepakati," tutup Ade.

(aln/fer)




Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Photo Gallery

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com