Selasa, 22/01/2013 10:59 WIB

Liputan Khusus

Penyebab Cinta Tidak Direstui, Mulai dari Beda Budaya Hingga Masalah Fisik

Eny Kartikawati - wolipop
Penyebab Cinta Tidak Direstui, Mulai dari Beda Budaya Hingga Masalah Fisik Dok. Thinkstock
Jakarta - Pembaca wolipop berbagi kisah cinta mereka yang terganjal restu orangtua. Penyebabnya berbagai macam, ada yang karena perbedaan budaya hingga masalah fisik calon pasangan. Inilah cerita cinta tanpa restu tersebut.

Dian, 28 Tahun:

Saya pernah menjalin hubungan dengan teman kuliah, satu angkatan. Orangtua tidak menyetujui karena background keluarganya yang broken-home, usia yang berjarak terlalu dekat, serta budaya yang berbeda. Dia orang Medan dan saya orang Jawa. Awalnya saya kekeuh mempertahankan hubungan, hingga akhirnya orangtua memberikan restu di tahun ke-2. Namun di tahun ke-3 saya malah menyudahi hubungan saya dengan pria ini karena perbedaan visi & misi yang tidak kunjung sejalan.

Soya, 20 Tahun:

Usia saya 20 tahun. Saya seorang mahasiswa yang berkuliah di Universitas Negeri di Bandung jurusan Jurnalistik. Saya ingin berbagi pengalaman mengenai hubungan yang tidak di restu orangtua. Pada awalnya orangtua saya menyukai pacar saya. Pacar saya berusia 26 tahun dan sudah lulus kuliah.

Tapi entah mengapa orangtua saya kemudian ragu dengan pacar saya. Orangtua saya khususnya ibu saya selalu melihat dia dari sisi bibit, bebet, bobot. Pacar saya memang lahir dalam keluarga yang broken home. Ayahnya meninggalkan dia dan ibunya saat masih kecil. Dan pacar saya pernah bilang kalau dia hanya bertemu dengan ayahnya satu kali. Dia pernah bercerita itu pada kedua orangtua saya. Orang tuasaya jadi berpikir dua kali untuk menyetujui hubungan kami.

Hubungan kami selama ini berjalan baik-baik saja. Hampir berjalan mulus, kami tidak pernah bertengkar. Yang membuat saya merasa nyaman karena dia begitu dewasa, terlebih dia bisa menerima saya apa adanya. Yang paling saya sukai dari dia adalah kalau pacaran suka datang ke rumah. Hanya saja setelah kami menjalani hubungan ini entah mengapa orangtua saya berubah pikiran, mungkin orangtua saya melihat dari segi ekonomi pasangan

Dhita, 27 Tahun:

Dulu saya pernah punya pacar. Kami pacaran mulai dari kelas 1 SMU dan hubungan kami putus nyambung selama bertahun-tahun (kurang lebih 7 tahun kami putus nyambung). Orangtua saya dari awal tidak setuju dengan hubungan kami. Awalnya saya mengira karena kami masih terbilang ABG waktu itu. Ternyata saat kami kuliah bahkan bekerja pun, orangtua susah menerima. Apalagi ayah saya. Tapi karena pada dasarnya saya cinta banget sama dia, saya tetap nekad dan memperjuangkan hubungan kami selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya ayah saya merestui hubungan kami bahkan membangga-banggakan dia di depan keluarga besar. Tapi setelah itu saya baru tahu bahwa dia ternyata berselingkuh dan berkali-kali membohongi saya (kami pacaran LDR).

Akhirnya saya putus dengan tidak baik-baik. Saya merasa sangat hancur pd saat itu. Ayah saya sangat kecewa, karena dari awal ayah saya menilai dia orang yang kurang dewasa dan kurang bertanggungjawab, namun ayah saya mencoba menerima dia demi kebahagian saya. Saya sangat malu dan kecewa, karena orang yang mati-matian saya perjuangkan demi restu orangtua, ternyata tidak layak untuk diperjuangkan. Hingga sekarang nama dia tabu disebut di depan orangtua saya, terutama ayah.

Irene, 25 Tahun:

Mama saya tidak merestui hubungan kami. Alasannya simple, karena secara fisik pacar saya lebih pendek. Mama maunya saya mencari pria yang fisiknya jauh lebih baik dari pacar karena percaya saya mampu mendapatkan yang jauh lebih baik. Hanya saja saya ngeyel mau tetap dengan sang pacar. Sangking tidak merestuinya, mama sampai wanti-wanti, "menurut mama dia itu orangnya nggak baik. Anak geng mobil". Padahal alasan mobilnya dimodifikasi karena dia ingin memperkenalkan hasil karya dia ke orang-orang di kontes mobil untuk menarik calon konsumen.

Sekarang hubungan sudah direstui. Akhir bulan sudah akan dilamar. Dengan segala kesabaran kami berdua menghadapi sikap menyebalkan mama saya, bersyukur kami masih dapat bertahan sampai sekarang dan semoga sampai selama-lamanya.

(eny/hst)




Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Photo Gallery

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com