Kamis, 06/09/2012 08:42 WIB

Intimate Interview

Dian Pelangi Konsisten Ciptakan Baju Berwarna-warni

Hestianingsih - wolipop

Halaman 1 dari 2
img
Dok. Blog Dian Pelangi
Jakarta - Ketika mendengar nama Dian Pelangi, yang terlintas di pikiran adalah busana muslim stylish yang identik dengan gradasi warna terang dan motif tie dye atau jumputan. Salah satu cara agar sebuah produk mudah dikenal dan disukai pembeli memang harus memiliki ciri yang membuatnya berbeda dari yang lain. Itulah prinsip yang diterapkan Dian Pelangi dalam menjalankan bisnis fashion busana muslimnya. Dalam bincang akrab bersama wolipop, desainer berusia 21 tahun ini banyak bercerita tentang gaya busana, ciri khas dan strategi dalam memajukan bisnis fashion yang diturunkan kedua orangtuanya. Ini dia petikan wawancaranya.

Wolipop (W): Dian Pelangi identik dengan tie dye, motifnya juga sedikit bohemian. Apakah ciri seperti itu akan tetap dipertahankan?
Dian Pelangi (DP): Kita memang inginnya idealis, maunya baju kita sesuai ciri khas kita saja, cuma nunjukin karakter kita, nggak mau yang lain. Tapi kita juga harus ikuti selera pasar. Jadi mau bikin baju seidealis apapun, kita tetap harus ikuti tren. Nggak mungkin misalnya baju dan desain kita maunya seperti itu aja. Kalau sudah nggak nge-tren, ketinggalan zaman, sudah banyak tiruannya, masa' tetap maunya itu. Kayaknya terlalu idealis.

W: Jadi bagaimana menyiasati agar tetap ada ciri khas tapi selalu mengikuti tren?
DP: Misalnya, oh tahun lalu memang trennya warna-warna shocking, ya aku bikin tie dye, jumputan dengan warna-warna shocking. Tapi sekarang banyak suka warna pastel, aku bikin juga yang warna pastel dengan motif yang sama tapi sedikit dimodifikasi. Sehingga terlihat lebih fresh. Desain juga, tahun lalu banyak yang lebar-lebar, loose. Tapi sekarang orang lebih senang yang pas badan, bahannya chifon. Tetap saja ikutin tren, nggak terlalu idealis banget. Kita juga ingin yang pakai sadar fashion, terus juga sadar tren tapi tetap nggak ninggalin ciri khas.

W: Ciri khas apa yang akan tetap ada di baju Dian Pelangi?
DP: Dari namanya saja pelangi, pasti berwarna-warni. Setidaknya satu total look pasti ada tiga sampai empat warna. Tiga warna itu sudah minimal karena memang ciri khas Dian Pelangi. Jumputan sudah dari 20 tahun lalu kita pakai, cuma motifnya terus ganti. Memang ada jumputan Palembang yang tradisional banget, tapi kita modifikasi. Mungkin tekniknya sama tapi bisa dibuat zig-zag, garis, abstrak, jadi orang-orang juga mau pakai. Kita nggak benar-benar tiru, jiplak, tapi punya prinsip ATM: Amati, Tiru, Modifikasi.

W: Model tumpuk, memang gayanya Dian Pelangi juga?
DP: Aku senangnya tuh styling, jadi bukan cuma desain. Kalau di desain kan, bikin abaya terus ditambahkan lipit, kerut. Tapi styling misalnya celana harem dipadu kaus, tumpuk lagi jaket, tumpuk lagi pakai apa, di-styling per item. Aku senang yang seperti itu, main tabrak. Kesannya numpuk jadi nggak membosankan.

W: Konsep itu juga yang diterapkan dalam penjualan produk Dian Pelangi?
DP: Sekarang untuk DP by Dian (lini sekunder Dian Pelangi yang lebih casual) bajunya kebanyakan dijual per-outfit, seperti vest, cardigan, celana harem. Atau misalnya dress tapi tanpa lengan. Jadi orang bisa mix sesuka mereka. Terserah, misalnya dress pakai cardigan kaus jadinya casual. Tapi kalau diganti blazer jadinya resmi. Kalau baju muslim cuma abaya kan biasanya sekali pakai. Dua kali dipakai, orang sudah tahu itu baju yang kemarin. Tiga kali pakai, orang juga sudah kenal jadi bosan. Daya pakainya kurang, paling susah di mix & match.

W: Brand Dian Pelangi sudah dipasarkan sampai luar negeri. Ada perbedaan antara desain internasional dan lokal?
DP: Sebenarnya sama, tidak terlalu dibedakan, tapi kita sesuaikan dengan musim mereka saja. Kalau Malaysia nggak perlu pakai musim-musiman, mereka juga sama dengan di Indonesia. Tapi Middle East suka yang warna-warna gelap seperti hitam, abu-abu, merah tua, tidak mau yang mencolok. Jadi aku juga mesti sesuaikan. Walaupun tetap ada warna-warninya tapi tetap yang netral diperbanyak. Karena mereka sendiri suka yang hitam, tapi juga senang pakai bling bling. Aku melihat pasar, mereka sukanya baju seperti apa? Baju apa yang mereka sering pakai. Gaya busana kan berbeda di masing-masing negara. Lalu seperti di Eropa yang lebih dingin, aku bikin jaket-jaket yang tebal, celana yang bahannya tebal dan nyaman, syal juga yang tebal. Jadi mereka bisa pakai dan beli, nggak mungkin kan di Eropa tapi aku jualnya dress seperti di Timur Tengah.Next

Halaman 1 2
(hst/eny)


Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com