Selasa, 17/07/2012 08:18 WIB

Liputan Khusus

Investasi Apa yang Cocok untuk Saya? Deposito, Emas atau Saham?

Hestianingsih - wolipop
Investasi Apa yang Cocok untuk Saya? Deposito, Emas atau Saham? Dok. Thinkstock
Jakarta - Saat ini semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya berinvestasi baik untuk digunakan dalam waktu dekat atau menjamin kelayakan hidup di masa depan. Namun sebagai pemula, Anda tidak bisa sembarang memilih investasi.

Salah memilih produk investasi, bukan keuntungan yang Anda dapatkan tapi kerugian, bahkan uang bisa habis tak berbekas. Untuk itu, penting untuk mengetahui hal-hal apa yang harus diperhatikan saat akan berinvestasi. Pakar keuangan Aidil Akbar Madjid berbagi tipsnya untuk Anda.

"Yang harus diingat, setiap kali mendengar kata investasi selalu pikirkan jangka panjang. Kalau mau dipakai hanya untuk 3-6 bulan sebaiknya jangan investasi, masukkan saja ke tabungan," ujar Aidil dalam diskusi 'Smart Investing, Everyone Can' bersama Mandiri Sekuritas dan Bursa Efek Indonesia, Kamis (12/07/2012) di The Only One Club, FX Center, Sudirman, Jakarta.

Mengapa harus jangka panjang? Karena apapun bentuk investasinya, ketika nilainya tiba-tiba anjlok Anda tidak dapat menggunakan uang yang sudah ditanam sama sekali. Tak hanya itu, Anda pun perlu tahu, dana yang akan diinvestasikan akan dipergunakan untuk keperluan apa dan kapan. Pertimbangan itu akan menentukan jenis investasi yang sebaiknya dipilih.

Aidil menjelaskan, dana investasi harus dibedakan ke dalam tiga bagian. Apa sajakah itu?

1. Investasi Jangka Pendek
Merupakan investasi di bawah satu tahun, dan umumnya untuk digunakan dalam waktu dekat. Anda bisa memilih produk-produk perbankan seperti tabungan, deposito, dan yang sedang marak dilirik dalam tiga tahun terakhir ini adalah logam mulia atau emas.

"Untuk investasi jangka pendek yang diperlukan adalah produk-produk keuangan yang relatif stabil, aman dan kalau bisa tidak ada risikonya. Kita cari produk yang naik turunnya tidak terlalu drastis. Misalnya Anda ingin siapkan dana untuk menikah dalam setahun ke depan. Jangan masukkan dalam produk jangka panjang karena ketika sahamnya jeblok, malah tidak bisa nikah," jelas Aidil.

2. Investasi Jangka Menengah
Investasi antara satu sampai lima tahun, termasuk dalam jangka menengah. Anda bisa menggunakan pilihan obligasi, bisa obligasi pemerintah maupun obligasi swasta. Logam mulia juga bisa jadi pilihan produk untuk investasi jangka menengah.

"Misalnya Anda mau menggunakan dana untuk menikah sekitar dua sampai tiga tahun lagi, atau mau DP rumah empat tahun lagi, itu berarti jangka menengah," jelasnya.

3. Investasi Jangka Panjang
Dana yang akan digunakan dalam waktu lebih dari lima tahun ke depan, masuk dalam investasi jangka panjang. Di sini Anda bisa masuk ke pasa modal, saham atau properti yang tujuannya bisa digunakan untuk jangka panjang. Aidil menekankan, jangan sampai Anda salah memilih produk.

"Produk banyak sekali yang bisa kita pakai, jangan sampai tujuannya jangka panjang tapi pakai produk jangka pendek. Itu sama saja Anda mau ke Amerika tapi naik bajaj," terang pria yang berprofesi sebagai financial planner sejak 1994 ini.

(hst/hst)




Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com,
Telepon 021-7941177

Photo Gallery

Wolipop's Social Media

@ redaksi@wolipop.com