Jakarta - Upaya Islamic Fashion Festival (IFF) menjadikan tren busana muslim lebih mengglobal tampaknya semakin nyata. Untuk kesekian kalinya, IFF berhasil menggandeng desainer non-muslim ikut merancang dan memperkaya kreasi busana muslim yang lebih stylish dan modern.
Seperti yang terlihat pada IFF ke-13 yang digelar di Hotel Grand Royal Panghegar, Bandung, 25-26 Juni kemarin. Panggung catwalk tidak hanya diisi oleh karya-karya para desainer khusus busana muslim, tapi juga desainer yang merancang busana umum.
Mereka tampil malam itu sebagai desainer tamu. Di antaranya Milo dan Paul Ropp dari Bali, Calvin Thoo dari Kuala Lumpur serta duo desainer asal Singapura Natasha Mirpuri dan Sabeena Bani Ahuja yang membawa label mereka, Mantra.
"IFF sudah mulai mencapai targetnya. Sejak awal, saya memang berniat membuat busana muslim lebih global. Bukan khusus untuk Islam saja tapi mencakup semua," ujar Pendiri dan Ketua IFF Dato' Raja Rezza Shah.
Dato' Raja juga menjelaskan, di negara-negara Eropa dan Amerika, selama ini baju muslim identik dengan pakaian panjang longgar serta cadar yang menutupi seluruh tubuh dan wajah. Padahal, di Indonesia dan Malaysia, wajah busana muslim lebih beragam dan fleksibel.
"Busana muslim itu cantik, indah. Tidak 'mengurung' wanita," tuturnya.
Bisa dibilang, kehadiran empat desainer tamu tersebut memang memberi keunikan tersendiri dalam IFF kali ini. Sebut saja Paul Ropp. Garis rancang desainer kelahiran Amerika Serikat ini dikenal dengan keseksiannya. Tapi di ajang yang PAC Martha Tilaar menjadi official make-up artist IFF untuk kelima kalinya itu, Paul berhasil menampilkan busana muslim dengan gayanya sendiri.
Perpaduan gaya hippie, Timur Tengah dan India menghasilkan rancangan unik sekaligus mewah. Paul banyak menghadirkan konsep padu padan dan teknik tumpuk. Seperti cape dan celana aksen kerut atau wrapped blouse yang dipadu coat dan jodhpur pants. Delapan set busananya hadir dalam warna-warna terang motif floral, yang dipercantik bordiran dan manik-manik di atas kain tenun dan sutera.
Permainan motif dan warna juga ditampilkan Milo. Desainer kelahiran Italia yang sudah 40 tahun menetap di Bali ini memberi alternatif mengenakan busana muslim yang lebih praktis dan modern.
Milo banyak menghadirkan motif-motif songket Bali dan elemen bumi seperti bunga, akar dan hewan. Konsep padu padan kaftan, manset, tights dan long dress menjadikan karyanya ini bisa dikenakan semua kalangan.
"Saya sebenarnya bukan perancang busana muslim. Tapi banyak klien yang membeli baju saya untuk dijadikan busana muslim. Kebanyakan mereka berasal dari Malaysia. Dari situ saya belajar bagaimana orang muslim berpakaian," tutur Milo.
Milo juga menambahkan, setiap wanita punya berbagai cara mengenakan busana muslim. Cara berpakaian wanita muslim di Indonesia dan Malaysia bisa berbeda. Maka dari itu, Milo mencoba menciptakan busana yang lebih universal. Tetap sopan, tanpa harus berpakaian serba tertutup tapi tidak terlalu provokatif.
(hst/eny)
Redaksi: redaksi[at]wolipop.com Informasi pemasangan iklan
hubungi :